Merajut dan Ingatan-ingatan

Di Suatu Sudut
Merajut mengingatkan pada jaman-jaman SD, waktu itu sudah hampir lulus, perna diajari merajut sekali di bawah pohon beringin depan sekolah. Setelah itu tidak pernah lagi menjamah benang dan jarum untuk merajut. Selain itu merajut mengingatkan pada sebuah buku berjudul knitting club, bercerita tentang seorang anak laki-laki yang masuk klub merajut. Dan ternyata menurut penelitian ternyata merajut dapat membantu ingatan menjadi tajam, itulah mengapa nenek- nenak suka kegiatan ini.

Hmm, Virus merajut nya kak @fadalays udah sampai Bali. Waspada, waspada, waspada 

Pengen sih belajar merajut lagi, Cuma mau memastikan mana lebih mudah merajut cinta atau merajut benang sih. *piss kak. Sekitar seminggu yang lalu iseng-iseng buka facebooknya kak Fitriani A. Dalay, lihat-lihat hasil rajutan, terus nyasar juga di beberapa pecinta merajut dan penjual bahan atau buku merajut. Dan kemudian lewat Onyi kak @fadalays atau biasa dipanggil kak Piyo *SokKenal mengatakan kalo di Bali ada outlet yang menjual hasil rajutan sekaligus ada tempat belajarnya juga.

Yaap, nama tempat itu Kaboki, sebuah outlet untuk produk rajutan. Hari senin, 16 April lalu aku sudah kesana, dari luar outlet memang tampak tas-tas warna-warni menggoda. Seperti outlet pada umumnya, bagian depan sengaja terbuat dari kaca untuk menghubungkan outlet dengan dunia luarnya. Outlet itu terletak di bilangan jalan griya anyar, dekat patung dewa ruci atau biasa disebut daerah simpang siur. Hanya beberapa meter saja dari simpang siur, tetapi kalau tidak awas bisa kebablasan karena tulisan Kaboki nya tidak terlalu kelihatan, memakai huruf kurus mirip tulisan Jepang.

Sore itu sekitar pukul 16.00 Wita, outlet berlantai dua yang sejajar dengan rumah makan yang sedang di renovasi itu tampak sepi. Tulisan di pintu masuk Tutup, tetapi dibawahnya sebenarnya ada tulisan buka dari pukul 08.00-20.00 . Dan saya mengurungkan niat untuk mampir.

Seminggu lebih berlalu, akhirnya sepulang dari menghadiri seminar di kampus hari selasa kemarin saya mampir lagi, hanya sekadar ingin melihat-lihat. Suasana disana sepi, tetapi di halaman yang cukup luas itu parkir tiga mobil yang tampaknya milik pemilik atau pegawai disana. Aku memarkir motor di dekat mobil parkir. Aku melangkah ragu mendekati pintu yang bertuliskan geser. Diatas pegangan pintu ada tulisan ‘buka’ yang menggantung. Saya mencoba menggeser pintu, ternyata tidak bisa. Rupanya ada penjaga yang menyadari kehadiran saya. Seorang lelaki empat puluhan membukakan pintu dan mempersilahkan saya masuk dan melihat-lihat.

Sepi sekali, Sambil terkagum-kagum melihat hasil-hasil rajutan itu aku mulai berjalan ke arah kanan, ke sebuah meja panjang bertingkat tiga. Satu barang yang membuat berdecak adalah shawl berwarna merah muda, di rak bawah ternyata masih banyak corak lainnya juga. Tidak berapa lama seorang perempuan berlesung pipit datang menemani saya, dan lelaki yang menyambut saya tadi duduk di sofa yang diletakkan di sebuah sudut. Disamping shawl itu ada tas laptop untuk ukuran 10″, pola nya agak rumit dan berwarna coklat dan hitam, keren. Di bagian bawah ada beberapa tas kosmetik dan beberapa jenis tas berbentuk kecil lainnya. Harga nya beragam, mulai dari tiga puluh lima ribu untuk tas kosmetik hingga 75 ribu untuk shawl.

Disamping rak itu ada meja untuk meletakkan pernak-pernik kecil berupa gantungan handphone. Tidak terlalu mahal, hanya dengan enam ribu rupiah kita dapat membawa gantungan cantik itu. Di seberang meja itu ada rak tinggi untuk meletakkan dompet handphone dan beberapa tas kecil serta clucth pesta. Mata saya terus bergerak mengikuti warna-warni rajutan disana. Perempuan yang menemani saya itu bernama Putu, itu berdiri di dekat shawl diletakkan dan sambil sesekali menjawab pertanyaan saya.

Mula-mula saya menanyakan tentang keterampilan merajut yang pernah ada disana, tapi ternyata sekarang hanya difokuskan di daerah Pandaan, Jawa Timur saja, karena dibelakang outlet itu akan dibangun hotel. “sekarang hanya outlet saja yang ada disini,” kata perempuan berkulit sawo matang ini. Aku masih mengikuti mataku menjelajahi ruangan yang cukup besar ini. Di sebelah kiri pintu digantung beberapa tas rajutan yang dipadukan dengan kulit asli. tas-tas itu terlihat berkelas, tidak berbeda jauh dengan tas yang merknya sudah terkenal. Harganya berkisar antara dua ratus hingga diatas tiga ratus ribu. Kembali berkeliling berlawanan jarum jam ada beberapa kaos yang digantung, kupikir kemarin ada dijual baju rajutan juga disana, karena sebenarnya sangat minat sekali membeli cardigan rajutan 🙂

Sore itu hanya ada saya pengunjung gerai di bilangan Suwung itu, “biasanya yang banyak orang dari Jakarta kesini,” kata Putu ketika saya tanya pengunjung yang pernah datang. Turis dari Australia juga banyak kesana menurut pengakuan Putu.

Produk-prroduk rajutan ini sendiri dibuat secara manual oleh pengrajin di daerah Pandaan, Jawa timur. “Dulu ada banyak daerah yang membuatnya, di Bali ada, Malang, Pandaan, Banyuwangi juga,” kata Putu. Outlet ini sendiri sudah memiliki tiga cabang, di Pasuruan, Jakarta, dan di Kuta ini.

Rajutan ini memang dibuat manual oleh kelompok pengrajin dari kampung tertentu, hasilnya rapi dan cantik.
Setelah puas berkeliling gerai saya menimbang-nimbang untuk membeli tas kecil bertali atau tas kosmetik. Akhirnya tas kosmetik berwarna hijau berhiaskan rajutan bunga menjadi pilihan saya. Tidak terlalu besar kira-kira cukup untuk tempat bedak, lip gloss, kaca, lotion dan parfum. Tas itu dibungkus dengan kantong merah marun bertuliskan “think reuse!”

Tentang merajut dan produk rajutan ini mengajak saya membuka ingatan-ingatan. Meskipun tidak bisa membuat rajutan sendiri tapi produk rajutan ini melatih ingatan untuk memahami bahwa merajut memerlukan ingatan yang tajam, selain itu rajutan mengingatkan kita mencintai produk-produk ramah lingkungan. Dan satu yang pasti dengan label made in indonesia mengingatkan untuk mencintai produk dalam negeri.

*Mari merajut, Pengen buat cardigan lhoo 🙂

Advertisements

2 thoughts on “Merajut dan Ingatan-ingatan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s