Berbagi Untuk Bumi

Batal ke Antida, Lupakan, rupanya masih ada orang-orang seperti kak Ditha yang nekad dan bersahaja. 

Jadi apa yang kau lakukan di hari bumi ini? Sebaiknya jangan Cuma merenung saja, bersenang-senang sedikit boleh lah, asal kesenangan itu mengingatkanmu tentang bagaimana bumi ini perlahan-lahan hancur.

Saya sih semalam ikut terbakar suasana di sebuah ruang terbuka yang menampilkan jiwa-jiwa pecinta seni. Bagiku penampilan mereka bukan karena undangan semata apalagi karena sebentuk materi, mereka memang hadir mengisi jiwa. Hadeuhh, tanpa bermaksud melebih-lebihkan, ini memang karena sebentuk kehausan. Yaya, bagiku Denpasar ini sempit, kehidupan hanya berlalu begitu, kami, eh saya maksudnya terkadang haus dan rindu, kami hanya butuh setetes air untuk jiwa-jiwa yang dahaga.

Tapi disini saya mau bilang, ternyata saya generasi yang melupakan Iwan Fals dan konco-konco angkatanya, generasi ’90 an itu ternyata aku hanya mengenal namanya, dan beberapa lagu seperti “Ibu,” payah lah. Baiklah, tapi aku tidak menyesal nyasar ke Antida tadi malam, mending deh nyasar disana daripada nyasar diantara teman-teman yang tak kutahu mereka bicara tentang apa.

Aku dan kawan-kawanku sudah janjian untuk pergi ke Antida (nama tempat : Serambi Arts Antida) untuk menghadiri sebuah acara hari Bumi. Acara itu bertajuk “Children and Earth,” menghadirkan beberapa kegiatan seperti Pameran foto oleh komunitas anak tangguh, diskusi tentang pendidikan alternatif ramah lingkungan, dan beberapa workshop. Tanpa bermaksud mengesampingkan beberapa rangkaian acaranya, aku hanya hadir di acara band performance nya itupun udah tinggal kebagian bintang tamu nya.

Jadi ceritanya begini, acara itu sebenarnya berlangsung dua hari mengisi akhir pekan ini. Aku sudah janjian dengan beberapa teman, Eka Ari, Eka Mul dan Dolly, tapi si wakil presiden BEM itu rupanya jam terbang tinggi, selain ngurus BEM juga mengejar kuliahnya yang sedikit tertunda sepertinya sibuk dengan tugas kampusnya. Eka Ari malah pergi melayat ke Tabanan dan Dolly gak ada kabar. Sorenya aku malah pergi ke Dalung menyelesaikan sesuatu dengan beberapa teman, pas pulang sudah hampir jam 9 malam. Setengah putus asa, tapi ketika hendak beranjak ke kamar @AsthaDitha menelepon. 

Jadilah aku dan kak Ditha pergi, kebetulan rumah kami berdekatan. Sesampai disana Dialog Dini Hari sudah hadir beberapa lagu kami tinggal kebagian Satu cinta, membakar oksigen, dan bumi buruk rupa. Lagu-lagu ini bukan sekadar gabungan lirik-lirik saja bagi saya. Kalo dihubungkan dengan kegiatan malam ini yaa, Satu Cinta ini sebentuk cita-cita kita semua memiliki satu tujuan, satu harapan untuk bumi. “Satu cinta untuk kebahagiaan, satu cinta untuk kedamaian.” Oksigen dengan “Segarkan ingatanmu saat menghirupku, resapi rasa hadirnya diriku,” ini lebih mengajak kita mengingat bahwa setiap hari kita menghirup oksigen, dan menjelaskan bagaimana oksigen itu lahir. Dan Bumi Buruk Rupa, sangat jelas maknanya

“ Air bumi menipis// seakan-akan hampir habis// sungai danau hilang sungai danau hilang// dan kemarau kian panjang// “
Dialog Dini Hari hadir untuk mengingatkan kita tentang tanda-tanda alam, dan Asli penampilan DDH (sebutan akrab Dialog Dini Hari) tadi malam total.

Bongkar

Tibalah waktu yang ditunggu-tunggu, Sawung Jabo, lelaki setengah abad lebih ini hadir dengan udeng merah dan baju bergaris khas jawa timuran. Malam ini Sawung Jabo telah siap membakar kami semua yang ada disitu. Jika DDH lebih mengingatkan tentang alam, lelaki berkumis ini mengingatkan tentang apa penyebab alam ini sedemikian rupa. Diawali dengan musikalisasi puisinya tentang Bumi, *maaf ya judulnya lupa. Lalu lelaki yang bergabung dengan bengkel teater Rendra ini mengajak bernyanyi lagu Tanpa Kata-Kata sekadar untuk pemanasan, itu bukan judul lagu ya, si Jabo suka-suka nya saja menyeruakkan kata-kata.

Penampilan Dialog Dini Hari lebih total lagi featuring dengan Jabo, menyanyikan beberapa lagu seperti Kesaksian, Bongkar, satu lagu aku gak tahu judulnya, dan Nyanyian Jiwa, lalu ditutup dengan Bento, Maksimal!
“ //Orang orang harus dibangunkan// Aku bernyanyi menjadi saksi// Kenyataan harus dikabarkan// Aku bernyanyi menjadi saksi// ”

Ini memang lagu-lagu penyemangat jaman-jaman ’90 an tapi cobalah kita teliti lagi, berhubungan dengan lirik-lirik kesaksian. Cerita tentang orang-orang yang paling menderita akibat bumi dibuat tak bersahabat lagi, semesta dibuat luka. Orang-orang kecil lah yang menerima dampak terlebih dahulu. Dalam pemahamanku lagu ini mengajak kami semua untuk tidak hanya sekadar menjalani ritual peringatan hari bumi, tapi juga harus tahu tentang bagaimana bagaimana bumi dikuasai oleh kaum pemodal itu. Dan lirik Kesaksian diakhiri sebuah pengharapan untuk kita semua.

“ //Lagu ini jeritan jiwa// hidup bersama harus dijaga// lagu ini harapan sukma// hidup yang layak harus dibela// “

Bongkar bercerita tentang kesewenang-wenangan, jika dihubungkan dengan hari bumi ya cocok saja, bumi Indonesia telah dijual seperti yang diceritakan lewat buku Indonesia For Sale. Bumi dan isinya dijual tetapi hasilnya hanya dinikmati segelintir orang, mereka menjualnya lewat drama politik dan berbagai macam argumen yang dilogis-logiskan dengan mengatasnamakan kepentingan rakyat.

“// Kalau cinta sudah dibuang// Jangan harap keadilan akan datang// kesedihan hanya tontonan// bagi mereka yang diperbudak jabatan// o, o ya o … ya o … ya bongkar// o, o ya o … ya o … ya bongkar// “

Tentang nyanyian Jiwa ini mengingatkan bahwa kita harus selalu peka terhadap segala pertanda.
“// Nyanyian jiwa haruslah dijaga// mata hati haruslah diasah// nyanyian jiwa haruslah dijaga// mata hati haruslah diasah//”

Dan lagu terakhir, Bento, orang-orang seperti Bento lah yang banyak berperan besar dalam kehancuran bumi kita ini. Kaum pemodal, dengan segala kerakusannya mereka memiliki banyak cara menguasai aset-aset strategis termasuk menguasasi alam ini.

“// Namaku Bento, rumah real estate// Mobilku banyak, harta melimpah// Orang memanggilku, bos eksekutif// Tokoh papan atas, atas sgalanya, asik!//

//Wajahku ganteng, banyak simpanan// Sekali lirik, oh bisa jalan// Bisnisku menjagal, jagal apa saja// yang penting aku senang, aku menang// Persetan orang susah, karena aku// Yang penting asik, sekali lagi, asik!//

//Obral soal moral, omong keadilan, sarapan pagiku// Aksi tipu-tipu, lobi dan upeti, woo jagonya// Maling kelas teri, bandit kelas coro, itu kantong sampah// Siapa yang mau berguru, datang padaku, sebut 3 kali namaku// Bento bento bento.. asik..// ”

Children and earth yang hari sabtu kemarin lebih menampilkan jiwa-jiwa muda seperti Nosstres dan lainnya, tetapi tadi malam memang giliran musisi-musisi tua tetapi masih menghadirkan semangat muda. Yakk, Jabo dan Dialog Dini Hari semalam memang keren, selain lagu-lagu nya, iringan musiknya juga luar biasa. Terima kasih telah berbagi untuk Bumi.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s