Hai, Hujan…

Masih segar ingatanku tentang konser di penghujung tahun lalu. Sudah menjadi biasa mendapat kunjungan Band Ternama di kota besarmu. Catatanmu begitu memikat tentang konser itu. Entah, sepertinya dari lirik-lirik mereka juga kita menemukan kata hujan dan pelangi. Kita menjadi sering menggunakan hashtag #Pelangi di jejaring sosial. Yang mungkin saja kau pernah anti menggunakannya. Lagu-lagu dari grup band yang kelihatannya tidak tertarik untuk menjadi kolektor topi itu kini menjadi lagu wajib. Terutama saat aku merindukanmu.

Aku mencintai catatanmu, meski bukan berupa Notasi Lagu. Aku menyukai pilihan kata-katamu meski tak bermaksud merayu. Kalimat-kalimat yang tersusun rapih, tidak diragukan lagi jelas kau bukan sekali dua kali menulis. Jika kau sedang bercerita aku merasa seperti ada disana. Catatan tertentu mungkin susah kumengerti, kadang seperti ada kawanan capung di kepala ketika berusaha mengertinya. Tapi aku sungguh menikmati setiap paragraf yang ada. 

Aku mengenalmu bukan dari tulisan-tulisanmu di surat kabar lokal ataupun nasional. Dari sebuah acara pelatihan. Saat itu aku malu-malu meski sebenarnya sangat mau untuk berkenalan denganmu :D. Mestinya kita bertukar kartu nama saja saat itu, tapi kutahu tentu kau tak akan mengobral kartu namamu. Jejaring sosial yang paling berjasa, ingat kau sering mengirim link tulisan atau sekadar tag disana. Aku jadi semakin kecanduan. Hampir setiap hari mampir ke blog atau membuka profilmu. Sekadar memastikan ada tulisan baru.

Ahh, lalu sejak aku memenangkan kompetisi menulis itu. Entah dengan kecemasan saat itu aku merasa tenang setiap menerima pesan singkatmu. Kemudian kita saling bercerita, kita berbagi. Tentang desa itu, tentang menulis dan apapun. Tanpa disadari seperti sebuah terjun payung yang dimainkan para tentara yang kini lebih memilih menjaga istana itu, kaupun terjun bebas dihatiku. Dulu aku membayangkan seorang sosok idaman itu kutemui di halaman sekolah ketika aku membaca di bawah pohon dan dia bermain bola di dekat tiang bendera. Atau di sebuah kolam renang umum pada suatu musim panas seperti di cerita-cerita komik jepang yang sering kubaca ketika jaman SMP hingga SMA.

Lalu kini mungkin saja sosok itu yang selalu hadir diantara buku-buku. Di setiap paragraf-paragraf yang tersusun rapi. Di sepanjang kalimat-kalimat yang kutemui. di sela-sela orang berbicara tentang kehidupan orang biasa. Pada udara segar sastra di bumi ini. Di wajah-wajah para filsuf terkenal dan kebanyakan botak itu. Diantara sinyal seluler yang jarang bisa di kompromi. Pada lirik-lirik coldplay, radiohead, atau Efek Rumah Kaca. Atau mungkin sosok yang akan berjalan beriringan denganku sembari membantu membawakan plastik Belanjaan. Lalu entah dengan sadar atau tidak dia akan bernyanyi //Tapi, tapi// itu hanya kiasan// juga, juga suatu pembenaran// atas bujukan setan// hasrat yang dijebak jaman// kita belanja Terus Sampai Mati.//

Iseng ikutan permainan menulis dengan 10 Frase nya kak Aan. agak maksa sih isinyaa. dan cukup lama juga menulisnya 😀
Lain kali bermain lagi 🙂

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s