Sepotong Jiwa yang Merdeka

“Travelling itu seperti hendak menemukan jiwamu yang merdeka,” kurang lebih itu pesan yang dapat kutangkap dari sebuah percakapan singkat dengan seorang penggila perjalanan.

Malam belum beranjak menua ketika saya menemuinya di sebuah lobby hotel milik sebuah maskapai penerbangan. Gerimis mewarnai sepanjang perjalanan menuju penginapan yang terletak di kawasan Poppies Kuta. Seharusnya sehari sebelumnya saya menemui mojang priangan itu, tetapi karena sedikit kesibukan malam itu baru bisa datang kesana.
Saya tidak tahu nama aslinya, apalagi nama lengkapnya dan ketika bertemu pun juga belum menanyakannya :D. Panggilannya Linlin, tetapi ketika saya mampir ke meja receptionist petugas hotel disana menyebutkan nama Shelly untuk penghuni kamar 209 itu. Petugas hotel mempersilahkan saya menunggu di sebuah sofa panjang berwarna coklat tua. Tak berapa lama menunggu, seorang perempuang berkerudung ungu muda menyambut hangat. Kami cipika-cipiki seperti kawan yang sudah akrab sekali, beda nya kami menyebutkan nama kami masing-masing lagi.

Sebelumnya kami hanya bersapa lewat pesan di jejaring sosial yang dihubungkan oleh seorang temannya, Teh Mulyani Hasan. Kemudian kami bersapa lewat pesan singkat dan telepon sebelum keberangkatannya ke Bali. Malam itu kak Linlin, begitu saya menyapanya, menggunakan kaos bergaris warna merah muda dan celana panjang santai abu-abu. Dan kami memang langsung akrab sekali, dia segera melancarkan cerita tentang perjalanannya.

Percakapan dimulai dari sebuah jejaring sosial khusus pecinta perjalanan, Couchsurfing.org. ini merupakan jejaring khusus komunitas pecinta perjalanan di seluruh dunia. Cara memakainya kurang lebih seperti facebook, bedanya dalam jejaring tersebut ada yang menawarkan menjadi host, ada yang ingin pergi travelling ke tempat-tempat tertentu, dan lain-lain. “Dalam komunitas ini bukan hanya berisi orang-orang muda memiliki tenaga untuk perjalanan tetapi ingin bepergian dengan biaya yang seminimal mungkin, tetapi ada juga yang punya uang tetapi tidak memiliki waktu untuk perjalanan sehingga hanya bisa menyediakan tempat sebagai host, atau orang-orang yang secara fisik tidak memungkinkan melakukan perjalanan dan ingin mendengar cerita tentang tempat-tempat menarik,” Linlin berbicara dengan logat Bandung yang tidak begitu kental. Dalam komunitas ini orang menjadi host hanya menyediakan tempat menginap saja, tak peduli sebuah ruangan mewah atau hanya menyediakan sofa seperti arti kata couch bahkan hanya menggelar karpetpun bukan masalah. Dan para pecinta perjalananpun akan menikmati itu. Soal biaya transport, makan dan lain-lain itu soal budget.

Perjalanan nya ke Bali kali ini merupakan perjalanan pertama memanfaatkan jejaring itu. Ia akan menginap selama dua mingu lebih. Ini jauh dari rencana sebelumnya hanya dua hari. “Karena batal ke Darwin, ya akan cukup lama jalan-jalan di Bali,” kata linlin dengan wajah tetap sumringah. Linlin akan menginap di beberapa tempat di Bali, Denpasar, Ubud, dan Karangasem. Mereka adalah host yang ia temui dalam jejaring couchsurfing tersebut. Sebelumnya Linlin sudah sering bepergian ke tempat-tempat menarik terutama di kawasan Asia. Perjalanan sebelumnya lebih sering dia lakukan sendiri, karena dengan itu dia merasa menemukan jiwa yang merdeka. “Kalo dirumah kan kita bukan menjadi milik kita sendiri ya, kita milik satu keluarga, kita harus membantu sesuatu, begitu juga ketika bekerja. Tetapi ketika kita bepergian terutama jika sendiri kita benar-benar seorang yang bebas, benar-benar menjadi diri kita,” Kata perempuan kelahiran Juli 1981 ini.

Ketika saya menanyakan sejak kapan mulai mencintai perjalanan ini dia mengatakan “Ini semua gara-gara AirAsia.” Kegilaanya terhadap perjalanan dimulai ketika dia sedang mencari tiket untuk keluarganya pergi ke surabaya, saat itu dia melihat tarif salah satu maskapai penerbangan yang memang sering memberikan harga sangat terjangkau tersebut. *tidak ada maksud promosi, sumpah. :D. ketika itu wanita yang kelihatanya sama-sama penggila ungu ini menemukan harga yang menurutnya gila untuk sebuah perjalanan ke Kuala Lumpur, filipina, Phuket, Bangkok, Ho Chi Min City, dan Singapura. Dengan persetujan sang Mama, Linlin diperkenankan meminjam uang ibunda tercintanya itu. Rencana waktu itu dia tidak pergi sendiri, bersama Mulyani Hasan, atau biasa dipanggil teh Yani. Tetapi ketika tiba dekat-dekat hari keberangkatan sahabat karibnya itu mengatakan “gak jadi ikut Lin, gue hamil.” Itulah awal perjalanan sendiri dia lakukan.

“Banyak hal menarik,” kenangnya. Di perjalanan pertama nya itu dia bertemu dengan sepasang traveller dari Jepang, dia ngamen di malaysia dan Singapura. Pengamen itu membawa gitar kecil dan satu alat musik *lupa namanya mungkin semacam ketipung. Pengamen itu juga membuat kotak dari karton bungkus mie yang bertuliskan “Untuk saat ini kami belum terkenal, tapi untuk menyumbang jangan tunggu sampai kami menjadi terkenal.” Ketika Linlin berbincang dengan pasangan itu ternyata mereka mengamen untuk perjalanan ke Indonesia. Lalu saat ke Indonesia dan singgah di Bandung pasangan tersebut menginap di rumah Linlin.

Perjalanan kedua dan ketiga masih di seputar Asia, Maccau dan Vietnam, dia tidak sendiri lagi. Perjalanan itu juga masih karena sebuah tiket Gila. Pada saat ke Maccau Linlin pergi berdua, “masih asik dan seru,” kenangnya. “kami berdua hanya memiliki hape biasa saat itu, jadi kami sangat menikmati perjalanan saat itu tanpa harus ada gangguan atau berita-berita dari Indonesia.” Tapi ketika perjalanan ke Vietnam mereka bertiga dan kedua temannya sudah memiliki smart phone. Mereka menginap dalam satu kamar privat, tidak di Hostel seperti yang biasa dia lakukan ketika perjalanan sendiri. Tetapi wanita berkulit putih ini malah mengaku seperti sendiri. Biasanya ketika menginap di hostel dia bisa berbagi dengan traveller dari daerah bahkan negara lain. Berbagi hal baru ataupun pengalaman saat perjalanan. Tetapi ketika bertiga dalam satu kamar bersama teman-temanya mereka terlalu sibuk dengan smartphone nya dan dia hanya nonton televisi sendiri. “aku jadi kayak pemandu wisata, pilih penginapan sendiri, aku yang check in, aku yang disuruh memilih tempat-tempatnya,” linlin berujar tanpa nada emosi dan tanda penyesalan. Sejak saat itu dia merasa perjalanan yang dilakukan sendiri memang lebih menarik, bertemu orang-orang baru, belajar, berbagi hal-hal baru, dan yang lebih penting membuka wawasan. Bagi Linlin perjalanan bukan hanya sekadar menikmati nuansa alam atau keindahan, “Bagiku perjalanan ini untuk recharge,” katanya disertai mimik yang tidak biasa.

Malam itu kami berbincang ditemani coklat panas berbungkus plastik hijau dan makanan ringan berbahan dasar jagung. Kami berbincang seperti dua orang yang sudah sangat kenal, akrab sekali. Sesekali Linlin bertanya tentang aku dan kesibukanku. Di luar hujan lebat sekali, pertemuan yang kurencanakan hanya sekitar satu jam itu ternyata menjadi lebih hingga hampir tiga jam. Tetapi saya sangat menikmati pertemuan ini, mendengar cerita-cerita perjalanan orang sangat menarik. Pukul 22. 20 Wita aku berpamitan, hujan masih belum reda tapi ibu mengirim pesan yang terlihat mengkhawatirkanku. Hujan memang tak redareda sejak semalam. Tapi kami berjanji akan bertemu lagi. Bertemu dengan orang-orang baru memang sangat menyenangkan.

Ini pesan Linlin, “Berpetualanglah selagi single.” Hahaha, tunggu saja aku akan menaklukkan, Kota berhati Nyaman, Bandung, daerah-daerah di Sulawesi, dan daerah timur.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s