Fragmen, Rumah Kami

Tiba-tiba merasa asing dirumah sendiri, merasa kehilangan kawan-kawan yang seru bersuara, rumah ini menjadi tak berwarna, kemana mereka?

Selama empat tahun berproses, bukan waktu yang singkat. Selama itu pula aku terlalu menikmati proses dirumah ini. Beberapa kali mencoba rumah yang lain, bukan berarti pindah rumah, tapi aku merasa memang disinilah tempat belajar. Mungkin ini memang bukan rumah yang ideal, bukan rumah yang bisa memberikan apa-apa. Dirumah ini hanya ada kehangatan, bahkan mungkin terlalu hangat hingga kadang kami lupa untuk apa rumah ini hadir, untuk kami penghuni rumah ini sendiri atau untuk orang-orang disekitar kami.

Senior kami menyebut kami Onani, memproduksi sesuatu untuk dikonsumsi sendiri. Bahkan pemikiran kami kadang mungkin terlalu sempit. Tapi aku secara pribadi merasa bahwa inilah pijakan pertama yang mesti kami lalui untuk melangkah, mungkin meninggalkan kebiasaan Onani ini. Rumah ini berada di jaman antara. Antara orang-orang yang (setengah) idealis dan tak peduli lagi. Tapi aku sakit ketika kawan-kawanku memilih mengikuti pasar.

Ketika awal masuk aku belum tahu untuk apa hadir dirumah ini. Aku hanya tahu seorang Intan Paramitha menyambutku hangat saat mendaftar, kemudian saat pelatihan ia tak berubah tetap hangat diantara kami dua puluh lima orang waktu itu. Aku yang melewatkan film GIE saat pengumpulan pertama. Tapi akulah salah satu orang yang bertahan diantara mereka yang menghadiri pertemuan pertama itu. Melewati masa magang, ada seseorang yang selalu diam di pojok sambil sibuk bermain HP, mendengar celoteh empat sekawan Oze, Lina, Gundi, dan Belo, ceramah Kak Intan dan kak Ditha, ya itu aku. Tapi entah apa yang membuatku bertahan dirumah ini.

Tidak banyak yang bertahan dirumah ini, bukan datang dan pergi, tapi lebih banyak pergi dan tak datangdatang. Mungkin memang ada yang lebih baik dari rumah ini atau hanya sekadar pendapat mereka tak dapat apa-apa disini. Jika ditanya mendapat apa kau disini? Aku akan susah menjawabnya, Banyak, banyak sekali, aku merasa mengenal dunia dari sini.

Dirumah ini tak mengenal siapa mampu siapa tidak mampu, kami belajar bersama. Belajar berbicara, belajar menulis, belajar berorganisasi, belajar menghadapi banyak kepala. Tapi satu hal yang menjadi ciri, semua yang kami lakukan atas kesepakatan bersama. Semua berpendapat, semua didengar, semua pendapat dirasionalisasi jika memang pendapat tersebut kurang rasional atau tidak sesuai dengan tujuan akan kami diskusikan hingga mencapai pencerahan. Semua orang bebas mengutarakan isi hatinya, semua orang boleh berbicara apa saja. Banyak ragam manusia disini, mulai dari penggemar K-Pop, Film, Sinetron, Dangdut, kutu buku, indie ers, anime, yang memang ingin belajar menulis, gemar Fotografi, bahkan ada yang tidak mengerti tujuan hidupnya.

Empat tahun melewati empat kepengurusan, tetapi mereka tak dapat dibandingkan. Tentu saja mereka orang-orang hebat yang bisa menghadapi banyak kepala. Aku pernah menjadi ibu diantara mereka *halah bahasa apa coba. Mengurus dan mempertahankan ternyata lebih sulit daripada merekrut. Berorganisasi ternyata lebih sulit dari sekadar menjadi lebah pekerja saat kepanitiaan. Aku merasa gagal menjadi ibu yang tidak kulakukan dengan tulus itu. Gagal mempertahankan anak-anak baru, mengurus rumah tangga organisasi, dan menjadi jembatan antara pemimpin umum dan redaksi. Meskipun begitu banyak sekali pengalaman berharga yang bisa didapat saat itu.

Ketika itu mungkin aku terlalu jarang mendengar. Aku yang hanya bisa memberikan protes tanpa solusi. Aku seorang ibu yang tidak bijak, terlalu sering mengutuk rumah tangga kami di depan anak-anak. Tapi aku memiliki teman-teman yang memiliki pemikiran sama. Rumah ini harus dibangun, pondasi kami tidak terlalu kuat, kami khawatir suatu saat rumah ini bisa roboh pada saat yang tidak kami duga. Mungkin saat itu memang kami banyak yang tidak satu visi, kami kehilangan arah, tujuan yang tidak jelas. Salah satu kawan mengatakan hal yang kurang lebih artinya “rumah (kami) yang membosankan, sekali-kali kalian keluarlah membuka mata,” tapi saat itu aku malah mengira itu hanya karena dia akan menjadi pemimpin dirumah barunya.

Tahun keempat kupikir waktu yang paling pas untuk membayar semua, aku akan bekerja dengan orang-orang yang memiliki satu tujuan. Tujuan yang kami rumuskan bersama-sama. Harapan kami rumah ini akan menjadi lebih baik. Kami akan saling bekerjasama, saling mengingatkan, mengevaluasi, saling menjaga. Ternyata tidak semudah itu, mungkin aku terlalu terlambat menyadari. Terlalu banyak kepala, dan isinya berbeda-beda. Kadang tiba-tiba merasa asing dirumah sendiri, hadir ditengah orang-orang yang memiliki pemikiran yang sama sekali berbeda. Beda pendapat mungkin wajar, tapi ini hanya pendapatku yang tak sama. Hei, apa yang salah dengan diriku? Atau ada yang salah dengan kalian? Tapi tidak-tidak, kalian berbanyak dan pemikiran yang sama. Dan tentu saja ada yang lebih menyedihkan dari ini.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s