Cinta Tak Pernah Tepat Waktu, tapi buku-buku ini datang tepat waktu

Adakah kado yang lebih indah dari sekadar kumpulan kata-kata?

Atau adakah yang lebih menarik dari sekadar berkata-kata.

Ya, aku mencintai kata-kata.

Aku membayangkan sebuah hari yang tak pernah lelah berkata-kata.

Mencerna, Menulis, dan Beradu kata.

Menjelang tengah hari di awal pekan pertama bulan ini aku menerima sebuah bungkusan coklat.

Dua hari sebelumnya sang pengirim telah berkabar “Aku mngirim tiga buku sore ini”

“haah, tiga?” dalam hati sih, karena sebelumnya ia akan mengirim dua buku yang berjudul sama.

Sempat bertanya buku apa aja yang dikirim, tapi tak dijawab “tunggu saja, mungkin agak lama karena ini akhir pekan” jawabnya.

Err, sambil penasaran dan bertanya dalam hati, sambil mengingat percakapan tentang buku-buku. Sebenarnya mudah saja ditebak, tapi masih belum mengatakan pasti.

Siang yang tak terik, seperti biasa saat-saat jeda masa kuliah dan kegiatan kampus seperti ini memang paling menyenangkan bermalas-malasan dirumah.

Hampir setengah hari di kamar agak bosan juga, tidak ada kesibukan hanya membuka-buka kembali proposal tugas akhir yang perlu diperbaiki sambil sesekali membuka linimasa.

Ada suara dari luar, bersalam sambil mengetuk pintu.

Agak malas menyahut, mungkin suara petugas pos, pikirku.

Tukang pos yang sudah biasa berkunjung kerumah memang sudah hafal dirumah tidak pernah ada orang, jadi surat atau kiriman biasa ditinggalkan di depan pintu, atau jika ada nomor telepon yang tertera pak pos akan menghubungi lalu menitipkan kiriman ke tetangga sebelah.

Tapi petugas itu terus mengetuk pintu dan bersalam “permisi, permisi…”

Dan benar, petugas jasa pengiriman TIKI, kami jarang menggunakan jasa pengiriman ini.

Petugas pos sudah pergi, tapi aku masih mematung di depan pintu, masih belum percaya menerima kiriman ini. 

Ada nama pengirim di sudut kiri amplop.

Entahlah, bahagia, agak haru dan masih belum percaya.

Masih belum percaya, belum pernah menerima kiriman buku “istimewa” *halaahh.

Kupikir benar buku-buku itu akan tiba sampai hari ketiga dalam minggu itu, karena kami berbeda pulau.

Jadi ya, kupikir hari itu tak perlu berdebar-debar menunggu nya . : D

Segera masuk kamar, sambil senyum-senyum gak jelas.

Lalu dengan rasa penasaran dan penuh debar-debar kubuka isolatif yang menempel, tali yang diliitkan pada dua bulatan dalam amplop coklat itu juga kubuka.

Dan ternyata di dalamnya masih ada pembungkus berwarna keemasan.

Hahaha, untung bukan pembungkus berwarna pink atau warna pelangi, tapi tiba-tiba jadi ingat komentar kawanmu soal pemilihan pembungkus itu “saat menerima kado itu pelangi mungkin akan merasa baru saja mendapat hadiah dari kakeknya.”

Bayangan kakek tiba-tiba terlintas saat memberiku hadiah dulu, tapi tentu saja bukan buku isinya, dan tak memakai bungkus yang sama pula 😀

Hahaha, tapi aku menerima alasan bahwa pembungkus itu untuk menyamarkan isinya yang berharga.

Tapi karena dari semua itu memang yang sangat istimewa adalah isinya.

Dannnn, Makassar Nol Kilometer yang kaujanjikan serta Cinta Tak Pernah tepat Waktu karya Puthut Ea.

Woww, girang, lah. Tapi sayang tak bisa berkabar langsung saat itu karena ternyata pulsa tinggal beberapa rupiah saja.
Dalam kegirangan hari itu tiba-tiba aku teringat percakapan kita beberapa waktu sebelumnya.

Tentang buku, tentang pergi ke toko buku bersama lalu memilih buku yang tentu saja dengan selera kita yang berbeda. Hmm…

Sudah beberapa waktu penasaran dengan Makassar Nol Kilometer, dan pastinya akan membuat rindu pada kota yang menurutku tidak terlalu istimewa ketika itu, hanya bandaranya yang megah.

Dan kampus Unhas tentu lebih rapi dan tertata dibanding Udayana. Dan belakangan baru tahu juga Diskusi di kampus masih hidup disana.

Tapi setelah membaca bukunya, ternyata ada banyak hal menarik yang belum kuketahui, soal komunitas, makanan, hal-hal menarik lain.

Walaupun hingga kini belum selesai, tapi aku sangat menikmatinya. Gaya penuturannya keren, tidak membuat bosan. Soal isinya akan diceritakan pada tulisan berikutnya 

Soal Cinta Tak Pernah tepat Waktu, tak kusangkaa.

Awal Februari lalu aku memang tengah mencari buku ini, dan sepertinya di Gramedia juga sudah tidak ada.

Tentu saja aku segera merampungkan Novel sekitar 200 halaman itu.

Dan tiba-tiba aku ingat pesan Puthut yang kutemukan pada blog @pikadita soal buku itu “…tapi hati-hati, novel itu sudah menjodohkan puluhan pasangan.”

Terima Kasih, belukar hujan. Jangan lelah berkata-kata.

Salam. #pelangi

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s