Januari, dan Desember Masih Terdengar Indah

“Seperti pelangi, setia menunggu hujan, reda”

Sisa-sisa pesona Efek Rumah Kaca semalam masih menimbulkan gairah pagi ini (22 Januari 2012). Efek Rumah Kaca memang selalu bisa menularkan energi positif melalui lirik-liriknya. Aku paling suka cuplikan lirik Desember diatas. Bagiku Desember bermakna sebuah penantian, bukan penantian yang menye-menye, tetapi penantian untuk melahirkan sesuatu yang baru. Untuk memulihkan luka apa saja.

Puitis, cerdas, dan cadas, itulah Efek Rumah Kaca. Belakangan ERK memang selalu hadir, dan selalu mampu mengalahkan galau, seriusan. Lirik-lirik yang sederhana namun bermakna dalam itu dapat segera mengubah perasaan anda. *halaahh.
Konon Astarini Ditha yang mengenalkan efek rumah kaca padaku, ia adalah penggemar fanatik grup band indie asal Bandung ini. Kala itu saya masih masih menjadi anggota magang Persma “Akademika.” Tahun 2008, lagu-lagu efek rumah kaca selalu mengiringi kami ketika bersama-sama di rumah merah itu. Tapi jujur saja saya bukan penggemar fanatik efek rumah kaca sebenarnya. Yang paling sering kudengar dan membekas saat itu yaitu Cinta Melulu. Bagiku yang mahasiswa baru saat itu, nama Efek Rumah Kaca masih terdengar asing. Maklum biasa dengerin lagu patah hati yang mendayu-dayu. Kalau tidak salah aku pernah bertanya pada kak Ditha mengapa nama band kok Efek Rumah Kaca, tapi dia menjawab “Udah dengerin aja, keren pokoknya lagu-lagunya, isinya tentang kritik-kritik sosial.”

Sabtu malam itu baru pertama kali bisa menyaksikan penampilan ERK langsung. Keren, diawali dengan lagu Kau dan Aku Menuju Ruang Hampa, kemudian Sebelah Mata, lalu Balerina dengan tanpa diawali basa-basi. Setelah itu dilanjutkan dengan Mosi Tidak Percaya, hee, aku tak begitu hafal lirik yang ini. Tentang Jangan Bakar Buku “karena setiap lembarnya mengalir berjuta cahaya” lumayan ingat liriknya. Kemudian Cinta Melulu, lagu yang paling membekas, awalnya hanya mengikuti lirih sambil kaki bergerak kecil, ehh di belakang Veroze kawan seangkatan saya di Akademika mulai menarik suara jadilah kami ikut bernyanyi sambil bernostalgia. Haha, sambil mengingat-ingat dulu ketika masih menjadi wajah baru di Akademika. Yang paling merinding saat mendengar lagu Hilang, sambil dibacakan aktivis-aktivis yang hingga kini Hilang dan Tak Pernah ditemukan jejaknya. Dua lagu terakhir ada Di Udara dan Desember, lagu yang membuat penonton terbawa suasana dan ikut berjingkrak serta bersuara tentunya.

Efek Rumah Kaca kali ini hadir dalam rangka ulang tahun Kompas Muda, bertempat di Kampus Sastra Udayana, jl. P. Nias. Cukup banyak yang hadir, memenuhi pelataran timur kampus Sastra. Acara ini terbuka untuk umum, jadi bukan hanya mahasiswa saja yang hadir, malah lebih banyak selain mahasiswanya. Dari penglihatanku sih, semoga gak salah melihat, yang kukira-kira (baru kira-kira) mahasiswa agaknya kurang terbawa suasana. Kebanyakan penggemar militan dari beberapa yang kukenal hadir bukan mahasiwa. Kebanyakan mereka memang orang-orang yang aktif dalam kegiatan sosial, maksudku mereka yang biasa vokal gitu.

Dari band yang beraliran pop-rock ini tersimpan banyak kenangan, mulai dari lagu penyambutan di Akademika, kemudian menyertai kami hingga akhir tahun 2009 an. Bahkan suatu ketika kami akan menyelenggarakan HUT yang ke-26 “Akademika,” pas puncak HUT kami berencana mengundang beberapa band indie. Saat itu berencana mengundang efek rumah kaca juga, tapi karena keterbatasan dana kami hanya bisa mengundang band indie yang ada Bali saja. 

Setelah kak Ditha turun jabatan efek rumah kaca tidak sering diputar lagi, hanya sesekali saja terdengar dari playlist komputer di ruangan 4 x 4 itu, itupun karena lagu-lagu diputar acak. Ketika kak Lenyot masih suka menumpang menulis di komputer Aka terkadang juga masih sering menyetel Efek Rumah Kaca. Meskipun begitu ERK masih tersimpan rapi di satu folder komputer Aka. Selera dirumah merah kemudian berubah Endah and Resha kemudian disusul dialog dini hari. Dan sekarang ditambah Nosstress. Soal selera warna musik Akademika ini ternyata juga mempengaruhi seleraku. Apa yang sering didengar disana otomatis berpengaruh pada playlist di telepon genggam atau laptopku. Lirik-liriknya sederhana memang mengena, sambil sesekali pamer ke teman-teman di kelas yang tidak banyak yang mengenal mereka.*ehh 😛

Bukan masalah sebenarnya mau ngefans dengan yang mana saja dari keempat kelompok musisi itu, mereka sama-sama membawa warna musik yang berbeda. Dan lirik-liriknya memang tidak biasa. Yang berbeda isi liriknya secara mendalam, ERK tentu saja dengan isu sosial dan politiknya, walaupun ada juga yang bertema cinta dan penghayatan hidup. Dan tentu saja ERK lahir lebih awal.

Walaupun punya cerita yang membekas tentang ERK, tapi baru-baru ini sih benar-benar mendengarkannya dengan seksama sambil menggapai-gapai maknanya. Sampai suatu ketika bertemu dengan pecinta hujan, yang ternyata seorang penggemar fanatik efek rumah kaca. Catatannya memikat, tentang konser efek rumah kaca akhir Desember lalu. Dari catatan itu aku baru tahu begitu dahsyatnya lirik-lirik itu mempengaruhi seseorang. Biasanya hanya terdengar lalu *ehh. Tapi belakangan efek rumah kaca telah ampuh mengurangi galau. Soal lagunya yang Jatuh Cinta Itu Biasa Saja, lagu cinta dengan segala kesederhanaanya “Kita hanya bercerita, tak perlu saling memuji” dan Darahmu Membiru Tragis bagiku ini sebuah pesan pada keputusasaan “Hidup tak Selamanya Linear…” keren sekali, sayang kemarin tidak dinyanyikan. Dan doaku pada lagu-lagu efek rumah kaca semoga membuat saya dan anda semua semakin bergairah dan bersemangat yang menggantikan kegalauan. 

Salam #Pelangi

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s