Menyalakan Mimpi di Kelas Beranda

“Kita tidak akan kuasa menolak tiga hal dalam hidup ini, Lahir, Mati, dan Jodoh.” Yang lain boleh saja nego, tapi ketiga hal itu harga mati. Tuhan tidak akan menanyakan “wani piro” lagi tentang tiga hal ini.

Lahir ditengah keterbatasan itu nasib namanya, tapi namanya juga nasib orang Optimis bilang tentu saja bisa diubah, tergantung sejauh mana kita mau berusaha. Efek Rumah Kaca saja bilang “Hidup tak selamanya Linear.” Yaa, mereka, dan kami pasti bisa.

Kali ini ingin bercerita tentang mimpi, tapi tidak tahu akan memulai darimana. Bagiku mimpi itu hanya bisa dicapai oleh orang-orang yang memiliki akses. Bagi yang tak punya akses mimpi tinggalah mimpi. Seperti terkesan pesimis, tapi bukan itu realistis. Kita semua yang punya akses mudah saja meraihnya, sedikit usaha dan sentuhan kalimat-kalimat dari para motivator seperti Mario teguh atau siapalah, yaa kita bisa menyentuh langit, Bintang, Pelangi atau apa saja yang ada di benak anda. Atau jika anda sudah merasa sukses anda lah yang akan menjadi motivator. Ya itu keren memang, tapi saya lebih setuju jika ada yang bilang bahwa hidup tak semudah apa yang dibilang Mario Teguh.

Hidup akan terasa sulit bila berada ditengah keterbatasan, keterbatasan dana, kemudian merembet ke keterbatasan pendidikan dan kesehatan. Ya, mereka hidup di tengah keterbatasan itu. Anak-anak di pinggiran Kota, mereka tinggal di Desa Perangalas, Lukluk. Anak-anak ini adalah pedagang buah keliling yang rata-rata berasal dari daerah Muntigunung Karangasem. Lagi-lagi Muntigunung, daerah kering yang berbatasan dengan Kabupaten Bangli. Ditengah keterbatasan akses di daerahnya, mereka mencoba peruntungan ke Kota. Berdiam di Kabupaten paling kaya di Bali, Badung.

Akhir Desember lalu Kelas Beranda membuka kesempatan untuk menjadi volunter mengajar anak-anak ini, saya termasuk salah satu yang mendaftar. Lalu pada hari sabtu, 7 Januari 2012 saya bertemu Mbok Luh De (@lodegen) dengan kawan-kawan calon volunter lain untuk mendengar cerita lebih banyak tentang mereka. Kelas Beranda adalah kelompok belajar yang dibentuk beberapa relawan pengajar Mbok Luh De, Kak Intan, Kak Ditha, Mbok Anik, Bli Jaya Ratha. Kelima orang keren ini bolak-balik Denpasar-Kapal dan Lukluk seminggu dua kali sejak tahun 2010. Tetapi sejak sekitar enam bulan yang lalu para pengajar ini jarang kesana lagi karena masing-masing volunter memiliki kesibukan yang berbeda dan ada yang kuliah di luar Bali, sehingga saat ini mereka membutuhkan volunter lebih banyak lagi.

Sabtu pagi itu mbok Luh De memberikan gambaran pada kami volunter baru “Tidak ada kurikulum baku dalam mengajar ini,” kata mbok Luh De. Tetapi para pengajar berusaha menciptakan pembelajaran semenarik mungkin untuk mereka. Mereka biasanya diajari berhitung, menulis, dan bahasa inggris. Anak-anak itu paling suka diajari bahasa Inggris katanya, karena kalau bisa bahasa Inggris menurut mereka bisa jadi gigolo di Pantai Kuta. Ya, cita-cita tertinggi anak-anak itu ingin menjadi gigolo, dalam bayangan mereka menjadi gigolo itu keren. Tapi lebih tepatnya mereka memang tak ada pilihan.

Anak-anak itu rata-rata buta huruf, mereka dibagi menjadi tiga kelompok, anak-anak sebaya dengan anak TK dan SD yang buta huruf, anak-anak sebaya SD-SMP yang pernah putus sekolah, dan remaja buta huruf. Khusus para remaja biasanya diselingi pendidikan kespro (kesehatan reproduksi), karena pengetahuan mereka tentang kespro sangat rendah. Mereka sudah mulai mengenal seks bebas dan rata-rata umur 15 tahun sudah menikah.

Oh ya, hampir lupa mbok Luh De juga bilang, pedagang buah yang laris biasanya hanya anak-anak. Mungkin karena pembeli trenyuh. Tetapi ketika anak-anak dan remaja ini akan tumbuh dewasa tidak ada yang tahu akan seperti apa nasib mereka. Jadi melalui kelas beranda ini diharapkan membantu mereka memiliki masa depan lebih baik, paling tidak mereka bisa membaca, menulis dan berhitung.

***

Sore itu (13 Januari 2012)mendung menggantung di Cakrawala kota Denpasar, kami janjian via twitter di Taman Kota Denpasar. Aku terlambat hampir 10 menit, kak Intan sudah menunggu disana ketika aku datang. Kami hendak pergi ke tempat anak-anak itu, sebelum seminggu sebelumnya tertunda karena cuaca labil. Lalu tetes hujan pun turun, kami berteduh di warung dekat taman kota. Siang sebelumnya Mbak Arum calon volunter juga, konfirm via twitter mau ikut ke Perang, temanku Henny tidak bisa datang karena rapat redaksi di Akademika, tapi aku berhasil kabur :D. Hujan semakin lebat, tidak ada tanda-tanda ada yang mau datang, tapi kemudian Anggara (@anggaramahendra) menghubungi kak Intan via telepon, dia volunter juga tapi bukan pengajar. Anggara bertugas mengurus blog.

Anggara bilang ada yang mau datang lagi, Upik (@sitampanjaya). Cukup lama kami menunggu, Anggara dan kak Intan terlibat percakapan serius tentang mau diapain kelas beranda ini. Aku menjadi pendengar yang baik dan sesekali menimpali. Yang jelas penangkapanku dalam percakapan itu, kelas ini akan dibuat menjadi lebih hidup, mencari metode-metode mengajar yang menarik, belajar dari komunitas-komunitas serupa, banyak memberikan keterampilan, fotografi, teater, pengajaran via dongeng-dongeng, pokoknya semua hal yang akan meningkatkan performa mereka, termasuk publikasi, dan menggalang dana.

Serius, sebenarnya aku belum punya bayangan mau dibawa kemana anak-anak itu sebelumnya. Tentang mengajar pun aku tidak punya pengalaman. Motivasiku jadi volunter sih karena memang aku pernah berada di tengah-tengah orang dengan bebagai keterbatasan seperti itu di desa ku sana, jadi ya terasa sekali bagaimana rasanya. Mumpung ada kesempatan berbagi ya mengapa tidak. Hanya perlu belajar teknik mengajar yang menarik meskipun sulit (katanya). Tapi aku bilang ke kak Intan hendak mengajarkan mereka cara mengolah sampah yang baik, karena mbok Luh De bilang di dekat tempat tinggal mereka sampah menumpuk dan baunya mengganggu, ternyata terbukti.

Akhirnya, kak Upik datang, dan sekitar pukul 20.00 WITA kami berangkat ke Perang. Hujan masih mengiringi, kami menyusuri jalanan A. Yani yang gelap tanpa lampu jalanan. Hujan tinggal rintik-rintik ketika kami sampai di tempat kos anak-anak ini. Sepi, hanya beberapa bapak-bapak yang sedang bercakap-cakap. Lalu kak Intan menyapa seorang remaja umur 15 tahunan. Namanya Widya, tampaknya kak Intan sudah sangat akrab dengan gadis itu.

Jam segitu ternyata mereka sudah pergi tidur, maklum mereka berjualan sejak jam 5 pagi hingga jam 5 sore. Kami banyak bercakap-cakap tentang anak-anak yang masih ada disitu sekarang. Beberapa pindah ke kapal, kata Widya. Ada yang sudah menikah juga, jadi sudah tidak tinggal disitu. Ada yang pulang kampung. Kak Intan dan Anggara minta tolong Widya mendata anak-anak yang masih ada. Tidak sampai setengah jam kami disana, hanya bertemu dengan Wayan, siswa mbok Anik di kapal bersama adiknya, Widya, Agus yang sudah masuk sekolah formal, dan satu lagi lupa. Widya dan Agus yang bersemangat meladeni kami, sedangkan Wayan sesekali mencuri melihat televisi di kamarnya ketika kami mengajaknya berbincang.

Kami hendak pamit, hujan sudah mulai reda. Kami berjanji akan datang lagi hari sabtu minggu berikutnya. Aku berjanji meminta pertemanan dari facebook Widya, keesokan harinya ketika di konfirm, aku melihat mimpi dalam dindingnya yang ditulis selepas kami berpamitan. Ya kami akan menyalakan mimpi mereka di Kelas Beranda.

Advertisements

2 thoughts on “Menyalakan Mimpi di Kelas Beranda

  1. entah kenapa, gw merasa tulisan ini dibuat terlalu terburu-buru.

    beberapa paragraf terakhir bisa dibuat tulisan yang lebih fokus, tapi malah berakhir seperti dipaksakan harus tuntas.

    kan bisa dipecah menjadi beberapa tulisan.

    my 2 cents 😉

    • Bener banget kak, penutupnya juga kurang ngena ama bagian awal tulisan,

      takut keburu lupa jadi ditulis seadanya :p

      nanti lah tulisan berikutnya dituntaskan 😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s