Belajar Dari Hal-hal Sederhana

“Sampe hal-hal begitu juga diajarin ya?” kata Kak Fitria, ketika kujawab agenda ke Cangkeng pagi itu (selasa, 3 Januari 2012)

Kak Fitria adalah volunter di Dian Desa, Lsm yang mendampingi masyarakat Munti, khususnya dusun Tianyar. Dia baru dua minggu live in Munti. Aku baru berkenalan dengannya pagi itu, dan rupanya dia bergelar Princess Munti specialis designer tas yang masih mencari formula yang tepat untuk menghasilkan tas yang khas, unik, dan antik. wanita jangkung ini mengajari pemudi munti membuat kerajinan tas. Kak Fitria ini kekuasaanya berada di bawah Queen of Munti, Mbak Endang. *halah ini ga penting sebenarnya.

Pagi itu aku ke Munti lagi, seperti biasa dosenku sedang ada agenda untuk project pengabdian masyarakat nya disana. Aku sih cuma ikut, sembari berkenalan dengan masayarakat disana sebelum memulai penelitian skripsi.

Tumben gak telat, kami janjian di banjar Pande, Peliatan, Gianyar. Dan tepat pukul 05.00 WITA, aku udah sampe depan banjar. Dan 10 menit kemudian baru dosenku datang karena harus balik mengambil beberapa persiapan yang ketinggalan.

Kali ini tidak salah kostum lagi, sehari sebelumnya aku dan parter *halahh Diah maksudnya, udah membeli sandal gunung dan jaket tebal. Uwoo.

Yang Remeh itu Penting
Yaapp, agenda hari itu mau ngajari orang cuci tangan yang benar. Jadi program di dusun itu adalah Sanitasi Total Berbasis Masyarakat. Bagi yang belum tahu boleh search yah. Ini program nasional, cuma Kabupaten di Bali dan banyak Kabupaten di Indonesia belum melaksanakan program ini.

Ini program pemberdayaan di bidang kesehatan lingkungan. Program ini sendiri terdiri dari lima pilar, yaitu bebas buang air besar sembarangan, cuci tangan pakai sabun, penanganan sampah, penanganan limbah, dan memastikan air minum yang aman dikonsumsi. Dari kelima pilar ini tidak bisa berjalan serentak karena program ini benar-benar tanpa subsidi. Masyarakat dipicu untuk merasakan bahwa kelima hal tersebut memang merupakan kebutuhan mereka. Lalu masayarakat akan membuat keputusan-keputusan sendiri. Masyarakat dilibatkan penuh pada setiap proses pengambilan keputusan. sehingga masyarakat merasa dihargai dalam setiap aspek program ini. Dan lebih bertanggung jawab terhadap setiap keputusan yang dibuat secara kolektif. Tapi inti dari program ini adalah perubahan perilaku.

Selama tiga bulan (sejak September lalu) di daerah Cangkeng ini baru dipicu untuk pilar bebas BABS (Bebas Buang Air Besar). Dan hasilnya lumayan, rata-rata sudah memiliki jamban, baik jamban cemplung atau leher angsa. Dan mereka membangun jamban dengan sistem arisan. Bukan jamban-jamban mewah, dan sebagian besar memanfaatkan bahan-bahan lokal. Rata-rata dari mereka juga sudah membiasakan memakai jamban yang sudah dibangun tersebut.

Jadi saatnya berlanjut ke pilar kedua, cuci tangan pakai sabun. Setelah beristirahat kurang lebih satu jam di Center LSM, kami melanjutkan perjalanan ke Cangkeng. Rupanya pagi itu matahari sedikit malu-malu, tetapi itu yang membuat perjalanan cukup menyenangkan. Walau harus naik-turun bukit, tapi gak sampe hampir pingsan lagi sampai wilayah teratas itu. Kami langsung disambut para motivator, pak Jro Kadek, pak Kadek suli, pak komang alit, bu suriawan, bu sudi, pak Sri Tabanan, dan lain-lain nya belum terlalu kenal.Pagi itu semua motivator dalam kelompok yang ada di munti dikumpulkan di Bale tempat Cubang daerah Cangkeng. Aku cuma kenal beberapa.

Pertemuan itu di fasilitatori oleh tiga orang, Pak Joni dari mitrasamya, Bu yanti dosen saya, dan ibu Desi sanitarian puskesmas Kubu. Ada juga kak Oky dan kak Reka yang menjadi pendamping harian program. Awalnya para motivator tersebut diajak mengingat tentang pilar PHBS (perilaku hidup bersih dan sehat), kemudian dibuat kesepakatan bahwa hari itu mereka akan membahas tentang cuci tangan pakai sabun.

Para motivator kemudian diajak brainstorming tentang kegiatan apa saja yang diwajibkan mencuci tangan setelah melakukannya. Mereka diminta menulis dan menempelkannya pada papan flipchart. Jawabanya lucu-lucu, ada yang bilang setelah bangun tidur, ada yang bilang setelah ngarit (mencari rumput). Intinya bukan pada jawabannya tetapi pada proses pengambilan keputusannya. Matahari tetap tak tampak meninggi ketika diskusi itu berlangsung. Tiba-tiba hal yang paling indah muncul, kabut tipis turun perlahan. Lanjut ke sesi berikutnya, motivator diminta menjawab satu-satu cara mencuci tangan sehari-hari. Kemudian tentang manfaat cuci tangan. Dan sebenarnya rata-rata sudah tahu hanya saja tidak biasa mereka lakukan.

Proses diskusi partisipatoris ini seru sekali, proses tersebut juga disertai demo. Demo cuci tangan, bayangkan. Hal yang sebenarnya sederhana, tapi kita semua jarang melakukannya dengan benar. Mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir. Peserta FGD masih tampak antusias meski udara terasa menyesakkan. Gerimis, kabut yang mengepung, dan lantai bale Cubang yang berdebu mengisi atmosfer siang itu . Apa yang sudah di demokan kemudian di share kepada masyarakat yang lain. Dua volunter dari motivator tersebut mengajarkan cara mencuci tangan yang benar kepada warga lainnya. Di akhir sesi, sekitar dua belas orang motivator tersebut diajak membuat suatu rencana tindak lanjut. Mereka saling bersaing untuk menyampaikan ide tempat cuci tangan dengan air mengalir dirumah masing-masing. Tidak ada ekspresi terpaksa di wajah mereka.

Belajar Tiga SKS
Bagiku setiap hari adalah belajar, dan hari itu saya berasa belajar tiga SKS. Seharian penuh bersentuhan dengan masyarakat. Walaupun tidak terlibat langsung, tapi kami saling berinteraksi. Banyak hal yang bisa dipelajari bersama dengan mereka. Tentang ketulusan. Tentang perasaan melalui ekspresi mereka ketika diajak (lebih tepatnya dipaksa) berpartisipasi. Semua terasa mungkin ketika dipikirkan bersama. Tentang mengubah kebiasaan. Tentang rasa berharganya seseorang ketika dilibatkan, seperti ekspresi Pak Kadek Suli. “Ni lagi rapat, kayak anggota DPR ini rapat” kata pak Kadek Suli sembari tertawa renyah ketika menerima telepon di sela-sela diskusi itu. Tentang belajar teknik fasilitasi masyarakat. Setelah sebelumnya pernah belajar memimpin FGD dan terasa gagal. Tentang diskusi dengan para fasilitator keren. Huaa, dan banyak lagi. Bayangkan jika setiap keputusan di negeri ini melibatkan masyarakat, ya memang tidak mungkin semua memiliki kesempatan yang sama dalam keterlibatan. Tetapi paling tidak setiap keputusan, setiap pembangunan, seharusnya disesuaikan berdasarkan kebutuhan mereka.

*Curhatan yang terpaksa diselesaikan 🙂

Advertisements

One thought on “Belajar Dari Hal-hal Sederhana

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s