Berpindah, Siapa Takut?

Banyak jalan menuju roma, gak punya pulsa modem, nge blog via opera mini pun jadi.

Berhubung lagi sering galau gak jelas, ceritanya mau ngobatin galau. Dan ternyata yang bisa mengobati ya memang harus diri sendiri. Berawal dari sepotong fatamorgana yang mengakibatkan kebodohan-kebodohan kecil. Beberapa waktu kemarin kayaknya keterlaluan banget. Berharap apa coba? Bukan menyesal juga sih, tapi kok ya ngerasa bodoh banget ya, bodoh dan polos itu emang kayaknya cuma beda tipis.

Kalau Candra Dewi bilang “Orang tidak akan pernah menjadi dewasa sebelum pernah patah hati.” jadi sebaiknya mencoba mengambil hikmah saja dari kepolosan eh kebodohan tersebut.

Berhubung orang yang kalem dan introvert, gak bisa nangis, gak bisa marah, dan gak bisa teriak-teriak nggak jelas. Dan tentu saja gak mungkin mencoba bunuh diri juga kali. jadi keputusannya mau baca buku. Tapi buku apa? Buku desain penelitian? Ga mungkin juga, walaupun memang lagi galau proposal. 😦

Akhirnya inget kalo tanggal 24 lalu twitter heboh tentang Radityadika yang baru launching buku bertajuk Manusia Setengah Salmon. Pas tanggal 26 nya baru ngubek-ubek twitter dan nemu review nya di beberapa blog yang di link di twitter bang Raditya dika. Cukup menarik, berangkatlah ke gramedia dua hari berikutnya.

Seperti biasa isinya ga cuma menghibur dan bikin senyum-senyum sendiri sampe ketawa jungkir balik juga. Tapi banyak pesan mendalam dibalik cerita-cerita konyol tersebut. Beda dengan buku nya yang marmut merah jambu kemarin lebih banyak menghadirkan cinta, kalo manusia setengah salmon ini lebih banyak berisi tentang patah hati.

Ada beberapa bab yang menarik dan berjasa menjadi obat bagiku salah satunya ‘Sepotong hati di dalam kardus coklat.’ Bercerita mengenai Dika yang baru diputusin pacar, tapi saat yang bersamaan keluarganya harus pindah rumah. Ya, mungkin saya juga terlalu sempit buat dia, oleh karena itu wajar jika dia merasa harus pindah ke tempat yang lebih luas dan cocok untuk nya. Pesan moral dari sepiring makanan salah satunya bahwa setiap orang mempunyai kebiasaan sendiri, cara sendiri, dan tentunya sifat yang berbeda-beda. Oleh karena itu, wajar dong jika saya berbeda dengan mantannya. Tentang tarian musim kawin, bercerita tentang pedekate masa kini dan masa dulu. Masa PDKT itu diibaratkan sebagai tarian musim kawin, dan tarian saya mungkin saja kurang menarik karena skill tiap orang beda. Tapi bagaimanapun caranya sebenarnya yang paling penting ya fungsi pedekatenya. Yaitu agar bisa membedakan antara orang-orang yang kita mau dan orang yang kita butuhkan. Noted.

Tentang ‘the pains of growing up,’ tumbuh dewasa memang harus melalui rasa-rasa sakit seperti itu. ‘pindah’ menjadi dewasa dan siap menghadapi rasa sakit dan melihat hal-hal yang menyakitkan. Kemudian tentang pindah ‘rumah’ dan mencari rumah yang sempurna. lagi-lagi saya menemukan hati diibaratkan sebagai rumah seseorang. Saat awal kepindahan mungkin saja kita membanding-badingkan rumah baru dengan rumah lama kita. Begitu juga kami kemarin.

Bagi beberapa orang rumah adalah ruangan berukuran 4×4, bagi yang lain rumah besar dan minimalis mungkin di daerah perumahan mewah. Tapi balik lagi rumah yang ‘sempurna adalah bisa melindungi kita dari gelap, hujan, dan menawarkan kenyamanan.’

Dan pada akhirnya kita semua harus belajar dari ikan salmon. Untuk mendapatkan sesuatu yang lebih baik kata radityadika ga perlu jadi manusia super. Hanya perlu jadi manusia setengah salmon. ”tidak takut pindah dan berani berjuang untuk mewujudkan harapan. Bahkan rela mati di tengah jalan demi mendapatkan apa yang diinginkan (baca: butuhkan).” perpindahan adalah hal yang sangat mungkin, dan ini hanya soal u. Hanya perlu mencari kebahagiaan-kebahagiaan kecil diantara semua perpindahan ini.

Gak cuma pesan-pesan itu saja isi buku ini, banyak yang lucu dan konyol seperti di ledakan paling merdu, bakar saja keteknya, kasih ibu sepanjang belanda, dan terlentang melihat bintang.
Jadi menjadi single struktural, cyclical, ataupun friksional sekalipun adalah pilihan.

Salam sejuta kasih.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s