Spirit itu Darimana Saja

Kongres Wanita Indonesia III pada 22 Desember 1938 itu melahirkan hari ibu,

“Para pejuang perempuan tersebut berkumpul untuk menyatukan pikiran dan semangat untuk berjuang menuju kemerdekaan dan perbaikan nasib kaum perempuan. Para feminis ini menggarap berbagai isu tentang persatuan perempuan Nusantara, pelibatan perempuan dalam perjuangan melawan kemerdekaan, pelibatan perempuan dalam berbagai aspek pembangunan bangsa, perdagangan anak-anak dan kaum perempuan. Tak hanya itu, masalah perbaikan gizi dan kesehatan bagi ibu dan balita, pernikahan usia dini bagi perempuan, dan masih banyak lagi, juga dibahas dalam kongres itu. Bedanya dengan jaman sekarang, para pejuang perempuan itu melakukan pemikiran kritis untuk perkembangan perempuan, tanpa mengusung kesetaraan jender. “

Mom and me

Maka saya punya alasan menulis status ini “halo, hari ibu, bagaimana ttg kesehatan ibu di negeri kita, di provinsi ujung timur sana? Pendidikan kespro untuk remaja,putri khususnya? Selamat hari ibu.” Tapi kawan saya komentar saat yang lain statusnya unyu-unyu kamu menuliskan status begitu? Dan ketika saya jawab pencitraan, eeh dia kira beneran tujuanku itu. Hahaha, Yaelahh pencitraan untuk siapa juga coba. ckckckck. Saya yakin ibuku atau ibu-ibu lain dan para calon ibu masih memiliki permasalahan seputar hal tersebut.

Saya tidak memiliki banyak cerita tentang kebersamaan dengan ibu ketika kecil. Sejak kecil saya lebih sering bersama embah.Tapi ketika saya tumbuh dewasa ibu menjelma sebagai seorang kawan. Kawan yang paling bisa diajak gila-gilaan. Berbelanja bareng, wisata kuliner bareng, cobain resep masakan di dapur, bergosip bareng, ngomongin jodoh, pacar, dan akhir-akhir juga sering ngomongin masa depan kami bareng-bareng. Ibu sering kalap belanja, dan ia menjadi terlihat cantik ketika menawari saya membeli baju. Ibu terlihat seksi ketika marah dan mengomel. Dan ibu benar-benar bersikap hangat ketika memeluk saya.

Ibu melahirkan saya pada usia yang masih sangat muda. Dan saya tidak bisa membayangkan ketika seumuran dengan saya ibu sudah memiliki dua anak. Susah dibayangkan, kalau orang tua di jawa bilang “Anak nggendong bocah.” Ibu hanya melahirkanku hanya dengan bantuan dukun. Masa muda ibu itu hanya sebagian kecil potret kehidupan desa, menikah muda lalu memiliki (banyak) anak, tetapi untungnya ibu sudah kenal KB pada masa itu. Saya yakin ibu mewakili kebanyakan remaja di desa yang tidak pernah mendapatkan pendidikan kesehatan reproduksi. Apalagi di daerah timur seperti Nusa Tenggara dan Provinsi ter-timur Papua tentu lebih parah lagi dari sisi kesehatan ibu dan kesehatan reproduksi remaja.

Pagi ini seperti biasa ibu masuk ke kamar saya dan mencium kening saya. Segera saya taruh ponsel yang sejak membuka mata, saya lebih memilih membuka jejaring sosial twitter daripada menemui ibu terlebih dahulu. “Selamat hari ibu, terima kasih buat semuanya mam.” bisik saya sambil memeluk ibu. Ibu bukan orang yang mengerti twitter dan facebook, tapi ibu mengenal email dan yahoo messenger tapi itu karena kebetulan ibu bekerja di agen perjalanan wisata. Ibu adalah wanita yang mandiri secara finansial, dan dua tahun terakhir juga dituntut menjadi ayah bagi kami. Pokoknya ibu adalah pahlawan saya. Ibu juga tidak pernah marah ketika saya seharian hanya main di kampus dan kesana-kemari, dan kadang pulang agak larut.

Ibu selalu terlihat bahagia ketika pulang kerja ada aku atau adik yang menyambut. Ibu akan berubah sumringah ketika kami membukakan pintu. Ibu selalu merasa muda lagi ketika berbelanja atau pergi bersama saya, apalagi dengan gaya berpakaian ala anak muda yang tentu saja lebih berani memakai gaya aneh-aneh daripada saya. Dan ini kadang menyebalkan. Tapi sayangnya aku dan adik lebih suka sibuk sendiri, apalagi dua tahun terakhir kami jarang bisa bersama-sama. Dan ibu hanya sering ditemani media yang disebut TV. Beberapa minggu yang lalu ibu memutuskan menggunakan saluran TV berlangganan, dan kini serial drama Jepang dan China menjadi kawan barunya.

Malam ini saya sengaja tidak pergi, hanya untuk menyambut ibu saya pulang. Dan ibu membelikan buah-buahan kesukaan kami, Manggis dan Mangga. Ibu mengupas beberapa mangga lalu kami makan bersama-sama. Beberapa waktu kemudian kami seperti berjarak lagi. Meskipun begitu ibu adalah spirit dalam hidup saya.
Selamat Hari Ibu.
Terima kasih ibu, Sayang ibu selalu :*

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s