Sebagian Darimu Masih Ada Padaku

‎”Sebagian dirimu pergi bersamanya, sebagian dirinya tinggal dalam dirimu.”

Entahlah itu kutipan pertama kali siapa yang mengucapkannya, yang jelas itu saya dapatkan dari seorang kawan di comment jejaring sosial semalam. Hari ini ayah saya seharusnya merayakan ulang tahunnya yang ke-41. Beliau telah berpulang sebelum usianya genap 40 tahun, ya 2 tahun yang lalu. Beberapa tahun terakhir kami biasa merayakan ulang tahun bersamaan pada bulan Desember. Kebetulan ulang tahun saya November, adik saya 4 Desember, dan ayah saya 19 Desember. Dan saya sangat merindukannya pagi ini.

Sering saya dengar, dibalik kesuksesan seorang pria ada wanita tangguh dibelakangnya entah itu mama, kawan-kawan, teman dekat, kekasih, anak atau istri. Saya sempat berpikir yang sama, bahwa sesungguhnya dibalik ketangguhan wanita juga ada para pria yang selalu setia memberikan support dibelakangnya. Tapi setelah kepergian ayah saya, apa yang saya punya? koko juga tiba-tiba pergi begitu saja. Arghh.. saya sempet down beberapa bulan setelah kepergian ayah saya itu. Benar-benar saat-saat terberat dalam hidup saya.

ini di Losari, mesra yaa

Beberapa bulan saya benar-benar merasa terpuruk. Hari-hari terasa lewat begitu saja. Mulai saat itu saya harus membuat semua keputusan sendiri. Menentukan masa depan sendiri. Tidak ada orang yang memberikan pertimbangan-pertimbangan untuk setiap pilihan lagi. Masih harus berpikir masa depan adik saya. Dan saya benar-benar merasa sendiri. Ibu memang selalu hadir, memberikan support, selalu siap menjadi sandaran ketika saya benar-benar down. Tetapi ibu gak bisa memberikan pertimbangan-pertimbangan dengan segala konskuensinya. Ibu hanya akan memastikan saya dan adik sehat dan baik-baik saja.Saya harus siap dengan segala konsekuensi, ya saya sudah harus berpikir dewasa.

Sampai suatu ketika setahun hampir berlalu, saya sudah mulai bisa beradaptasi dengan keadaan. Saya kembali menata hidup, merumuskan masa depan *halaahh. Maksudnya, merumuskan segala hal penting untuk masa depan, dan ia hadir. Kehadiran yang tidak diharapkan sesungguhnya. Tetapi sejenak telah mampu membasuh jiwa. Bagiku ia lebih seperti seorang dengan beribu pengalamannya. Kami bercerita banyak hal, bertukar pikiran, berdiskusi banyak hal walaupun pada akhirnya saya lebih banyak bertanya. Dan sedikit banyaknya dia ternyata telah mampu mempengaruhi dan mengubah pemikiran-pemikiran saya. Saya mulai bisa bermimpi lagi, tentang gambaran hidup saya kedepan. Tapi sekali lagi saya harus hancur, status memaksa seseorang menjadi berjarak. Entah bagaimana ceritanya pokoknya saat itu saya benar-benar kehilangan orang yang dapat diajak berbicara lagi, tentang hidup dan apapun. Teman-teman memang ada, tapi ada hal-hal tertentu yang entah kenapa tidak bisa diucapkan. Tapi dari sini saya mengambil kesimpulan, dibelakang wanita tangguh tidak selalu ada pria-pria tangguh di belakangnya. Wanita tangguh ada karena ia punya mimpi, kekuatan mimpi mereka yang membuat terlihat tangguh, orang-orang dibelakang hanya menjadi pemanis dan kadangkala memang akan bisa menjadi tumpuan ketika harus terjatuh.

tanah Lot, Saya Gak Ikut

Jadi ngelantur, balik lagi ke ayah saya.
Dia lelaki hebat di mata saya. Ayah lahir dari pasangan petani. Ayah hanya lulusan SMA ketika saya lahir, namun akhirnya setelah adik saya lahir tahun 1994 ia memutuskan mengikuti kuliah jarak jauh, mengambil jurusan ilmu agama. Ga tau gimana ceritanya, padahal saat itu umur ayah sekitar 24. Sebelum kuliah ayah menghidupi kami dari bertani dan membuat gula merah, inget sekali ketika kecil saya sering ikut ayah mengambil nira. Setelah kuliah ia tidak lagi membuat gula merah, tetapi nyeku di dua SMP swasta. Belum ada motor saat itu, di desa kami hanya beberapa orang saja yang memiliki motor. Beliau mengajar dengan sepeda gayung bututnya, tetapi saya tetap bangga karena sering diajak pergi ke sekolahnya kenal dengan kakak-kakak SMP dan profesi yang disebut guru. Paling tidak saat itu saya mulai bisa bermimpi untuk sekolah dan jadi guru 🙂

Cukup lama ayah saya kuliah, sempat gagal skripsinya. Tetapi akhirnya ayah lulus enam tahun kemudian. Berbekal gelar sarjana, beliau hijrah ke Bali. Sekitar tahun 2000 di Bali hanya ada satu guru agama Buddha, sedangkan umat Buddha di Bali cukup banyak oleh karena itu dari sekolah tinggi tempat ayah kuliah menempatkan sarjana-sarjana mereka agar merata. Tetapi saat itu saya masih harus menyelesaikan sekolah dan tinggal bersama embah hingga SMP. Bukan masalah, setidaknya saya masih bisa bermimpi pergi ke Bali tiap liburan semester atau bermimpi bisa sekolah SMA di Bali. Tempat yang sebelumnya tidak pernah saya yakini bisa saya kunjungi. ya, saya hanya pernah mendengar Bali dari teman-teman.

Bareng Lintang dan Dana, ternyata saya tidak ada lagi

Lalu kami tinggal bersma di Bali, saya mengenyam tingkat sekolah menengah atas disini. Ternyata cukup sulit beradaptasi, hihihi, beda sekali kehidupan di desa dan kota, saya sempat terpuruk lagi. Ketika kelas satu SMA saya berhasil melewati dengan sempurna, karena mmemiliki beberapa teman yang sama-sama pendatang juga. tetapi ketika kelas dua harus pisah kelas dengan mereka karena beda jurusan, teman-teman saya terbatas, inget banget dulu ketika kelas dua jarang sekali mendapat teman kerja kelompok. Tapi toh kelas tiga akhirnya saya bisa berbaur dengan mereka walaupun tidak bisa mengikuti gaya hidup mereka. Dan akhirnya masa SMA saya lewati dengan sempurna meski tidak diwarnai dengan prestasi gemilang bahkan tidak ada prestasi apapun. Bagian hidup yang akhirnya harus hilang karena peristiwa adaptasi.

Akhirnya saya diterima di Universitas Udayana melalui jalur PMDK, jurusan ilmu kesehatan masyarakat. Entah kenapa saya hanya puas dengan jalur PMDK dan Universitas Udayana. Dan belakangan baru tahu ada universitas Gajahmada, UI, Unibra, atau UNAIR dan ternyata di Banyuwangi juga ada UNEJ. Helloooo, kemana aja guehh?? tetapi saya tidak menyesal dan berjanji akan menjalani segala konskuensi di jurusan ini. Tapi ini merupakan keputusan jangka panjang pertama dalam hidup, tanpa campur tangan ayah saya. Saya senang karena akhirnya saya dapat memilih pertama kali dalam hidup saya. Saya pikir dulu ayah akan memaksa saya masuk ilmu keguruan ternyata tidak, yeaayy.

Ayah bukan tipe orang keras dalam membentuk karakter anak-anaknya, meskipun untuk mencapai jenjang-jenjang dalam hidup ia lalui dengan keras. Beliau membiarkan kami mengalir menjadi diri kami, ia tidak pernah memaksa kami berprestasi. Ia mengajarkan bagaimana proses lebih penting dari sekadar pencapaian. Tapi kadang ini juga yang saya pikir membuat saya melempem dan terlena. Banyak bagian dalam hidup saya yang akhirnya saya lewatkan. Yap, saya memang tipe orang yang tingkat kepo terhadap suatu hal dalam kategori rendah. Dan motivasi eksis dan berprestasinya rendah. Bukan-bukan mungkin kembali lagi ke teori maslow, tingkat kebutuhan saya belum sampai pada tingkat aktualisasi diri saat-saat itu. Dan mungkin ini juga yang membuat saya maupun adik harus berlari kalah start daripada teman-teman

Ayah hanya orang dengan pemikiran-pemikiran sederhana, pemikiran yang realistis. Pernah suatu ketika ia mengingatkanku berhenti untuk memandang segala sesuatu secara ideal. Ayah juga pernah meragukanku bisa masuk di perguruan tinggi negeri. Bahkan pernah tercengang ketika saya bilang suatu ketika saya pasti bisa S2 di luar negeri. Sebenarnya ayah adalah pemikir yang hebat, dulu ketika masih di desa ayah pernah akan mencoba membuat saluran air bersih untuk desa kami walaupun hanya berhenti di tataran ide. Ayah juga yang pertama kali mengenalkan jamban saniter, walaupun tidak banyak yang mengikuti. Ia juga pernah mencoba mengalihkan pertanian padi menjadi pertanian semangka ketika pertanian padi benar-benar tidak menjanjikan. Ayah adalah orang yang cerdas di mata saya.

Ayah saya orang yang unik, jarang marah dan sangat asyik diajak tukar pendapat. Seingatku ayah pernah marah ketika saya coba-coba manja meminta ini-itu dan akhirnya mengguyur saya dengan bekas cucian piring ketika kelas 1 SD. Semenjak kuliah saya menjadi lebih terbuka dengan beliau. Kami sering pergi ke toko buku bersama, kami sering membeli banyak buku dan kemudian diakhiri dengan ibu yang ngambul. Kadang-kadang saya membaca buku-buku ayah tentang post-modernisme, budaya Pop, beberapa essay yang cukup menarik dan lain-lain, kebetulan saat itu ayah masuk di jurusan kajian Budaya di Udayana juga. Buku-buku itu memang susah saya cerna, tapi saya baca-baca aja sekilas, karena pengen tahu aja. Tetapi ada satu buku yang tidak boleh saya baca, tentang teori Karl Marx. Beliau cuma bilang “Belum saatnya kamu membaca ini.”

Foto sama Paman, ternyata setelah dicari2 foto bareng saya nya ga ada 😦

Kami lebih suka membicarakan buku dan menulis dibandingkan membicarakan bola. Ya, ayah saya suka menulis fiksi dan geguritan jawa. Walaupun beliau bukan penulis berprestasi dan jarang sekali mengikutsertakan karya-karya nya dalam lomba tapi beliau mengahabiskan hari-hari senggangnya untuk menulis. Dulu waktu kecil sering sih ayah mengirim tulisan-tulisannya ke majalah Jayabaya, tapi gak tahu pernah dimuat apa nggak. Entah kenapa dirumah memang hampir tidak pernah membicarakan olahraga, politik dan seni. Dan belakangan saya agak menyesal terutama tidak pernah belajar seni. Satu-satunya anggota keluarga yang bisa bermain musik adalah adik saya, itupun juga karena saya paksa masuk marching band ketika SMP. Soal politik, saya yakin ayah tahu banyak hal tentang politik, tapi beliau seperti menjauhkan saya dari kehidupan politik. Bahkan berpolitik (politik= cara mendapatkan sesuatu) pun saya tidak pernah diajari, yap selama ini saya hanya mengalir dan meraba-raba. Intinya saya suka menulis karena ayah, tapi sampai saat ini saya belum pernah membuat satu paragraf pun tulisan fiksi. Genre lain lebih menarik bagi saya. Catatan-Bukan genre curhat juga sih.

Satu-satunya percakapan paling menarik bersama ayah saya yang saya ingat yaitu tentang sistem. Waktu itu saya bertanya tentang sistem keuangan negara. Sore itu kami pergi ke rumah saudara, sepanjang perjalanan kami membicarakan itu, sampai pulangnya pun belum habis, itu percakapan yang hingga kini tidak terlupakan. Soal kebersamaan, yang paling teringat adalah ketika dijemput di kampus, dua minggu sebelum ayah pergi. Saat itu saya pulang dari kemah di Bangli.Dan kemudian laptop baru. Lalu semuanya hilang. Tidak pernah kembali.

Selama 20 tahun kemarin ayah memang satu-satunya orang yang paling dekat dengan saya. Dengan ibu sebenarnya dekat juga, cuma kami jarang berdiskusi tentang hal-hal yang bersifat serius. Haah, sebenarnya pagi ini hanya rindu. Rindu ada yang bertanya, “Nduk, proposalmu tentang apa?” “Udah sampai mana progressnya?” “Kalau lulus kamu tidak akan jadi PNS kan?” hahahha.

Wish you be happy there Dad, in another life. Happy birthday. I Love u so much.

Advertisements

One thought on “Sebagian Darimu Masih Ada Padaku

  1. Itu kutipan ternyata berasal dari seorang penyair Amerika Latin bernama Eduardo Galeano. Kutipan itu ia tujukan untuk sahabatnya, Cedric Belfrage, yang menerjemahkan buku terakhirnya. Sahabatnya itu meninggal tahun 1991, bersamaan dengan terbitnya buku tersebut. Kutipan itu sendiri begini dalam bahasa Aslinya:

    una parte de mi murio con el
    una parte de el vive conmigo

    (a part of me died with him
    a part of him lives with me)

    (sebagian diriku pergi bersamanya
    sebagian dirinya bersemayam dalam diriku). 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s