Tak Biasa, Dan Penuh Makna

“Kita tak lagi mendambakan sesuatu karena kita membutuhknnya, melainkan karena keinginan-keinginan yang terus-menerus didefinisi oleh imaji-imaji yang dikomersialkan, yang pada akhirnya membuat kita berjarak dengan diri kita sendiri.”

Tentang Arsitektur yang lain. Sebuah buku berisi essay tentang sebuah kritik arsitektur. Buku setebal 243 halaman ini merupakan karya Avianti Armand, seorang dosen arsitek di UI sekaligus penulis. Dilihat dari cover, buku ini kurang menarik. Hijau hampir abu-abu, bergambar balok-balok.

Buku ini kupinjam dari seorang kawan, belakangan saya emang agak sok rajin baca buku non-fiksi. Ternyata setelah dibaca buku ini menggoda sejak bab pertama. Bertutur mengenai rumah, mengenai asal-muasal arsitektur. Mengenai Homo Faber dan homo Ludens. Homo Faber adalah manusia yang mengolah tanah dan menjinakkan alam secara fisik menciptakan sebuah bangunan dunia artifisial baru. Homo Ludens adalah manusia petualang manusia petualang, penggembala ternak yang mengembara. Dari tipe hidup yang menetap dan nomaden ini dipercayai lahir arsitektur. Tapi penulis berpendapat bahwa sesungguhnya kita tidak benar-benar tinggal dirumah. “Kita telah lama menjadi penghuni waktu, sementara rumah telah menjelma menjadi sekadar ruang transit.”

Ini Cover Bukunyaaa

“Apa makna rumah bagimu?” : Kamu. Dalam buku ini dituliskan demikian. Saya jadi ingat percakapan dengan Kak Intan, seorang senior di rumah merah. Waktu itu purnama kapat, bulan Oktober 2011 dalam tahun masehi. Dia bilang jika ingin menyamakan visi dengan seseorang coba saja tanyakan rumah impiannya. Beberapa orang yang saya tanyakan rumah impiannya memang lebih banyak memiliki pemikiran-pemikiran yang sama dengan saya. Ternyata rumah sesungguhnya memang bermakna lebih dalam, menggambarkan sesuatu yang intim, memberikan kenyamanan, memberikan makna dan juga cinta.
Tentang Kitsch, suatu bentuk yang “Norak” atau “Murahan.” Ini merupakan sebutan untuk mengidentifikasikan imitasi yang buruk dari sebuah karya artistik dalam seni murni dan seni terapan, misalnya arsitektur, literatur, fashion, fotografi, tetaer, sinema atau musik. Kitsch terbentuk karena adanya penegasan posisi kelas pemiliknya. Kitsch lahir dari uang dan keinginan-keinginan untuk merambah lebih luas dan lebih cepat dengan mengesampingkan selera dan pengetahuan. Fungsi dari karya yang termasuk dalam Kitsch ini hanyalah sekadar untuk menghibur dan meyakinkan penikmat dan pemakainya.

Dalam buku ini juga mengemukakan tentang air yang biasanya menjadi pelengkap dalam arsitektur. Tentang jendela yang menjadi pembatas antara dunia dalam dan luar rumah. Dapur, yang maknanya bergeser menjadi dapur kotor, hanya sebagai tempat sarapan dan tempat beraktivitas pembantu serta bergosip. Ruang untuk anak yang sebenarnya tiada bermakna sebagai imitasi dari alam, tempat terbaik untuk belajar. Sembarang kota karena tiada keberaturan arsitektur. Tentang pagar yang telah menjadi pembatas kelas sosial. Dan banyak lagi fakta dan kritik tentang arsitektur.
Lalu apa yang disebut arsitektur yang lain dalam buku ini? “Bukan arsitektur yang mengkilap seperti arsitektur rumah berlantai marmer atau kayu yang dipoles halus, dengan jendela kaca lebar-lebar dan sebuah kolam renang, dengan dua buah dapur yang masing-masing luasnya setara dengan RSS (rumah sangat sederhana), dengan garasi minimal dua mobil dan interior, juga life style yang sangat banyak beredar belakangan ini. Bukan juga arsitektur yang mencantol pada nama-nama besar starchitects, internasional dan lokal, yang kepopulerannya menyaingi bintang-bintang film dan sinetron.” Jika ingin melihat perwujudan arsitektur yang lain ini dapat melihat ruang huni masyarakat pinggiran kali code, Yogyakarta kini. Romo mangun membantu memperbaiki ruang tinggal menjadi layak huni dan membebaskan dari upaya penggusuran. Intinya “Arsitektur yang lain berbicara tentang keinginan dan aspirasi masyarakat, bukan semata-mata pengolahan estetika tampilan semata.”

Buku ini sangat menarik, tidak hanya menampilkan filosofi dari sebuah karya arsitektur. Tidak hanya berbicara tentang keindahan, kenyamanan. Tetapi ternyata suatu karya arsitektur bermakna sosial strata dan dapat berbicara aspirasi. Dalam buku ini saya juga seolah pembaca diajak untuk berhenti menjadi masyarakat konsumerisme. Berhenti menjadi penikmat yang sesungguhnya hal tersebut tidak kita butuhkan. Mengajak kita peduli bahwa banyak ruang yang sesungguhnya kita hanya merasakan imitasi didalamnya. Kita membutukan ruang yang sesungguhnya. Dan yang paling penting buku ini menggunakan bahasa yang mudah dipahami oleh orang yang buta arsitektur sekalipun.

Advertisements

4 thoughts on “Tak Biasa, Dan Penuh Makna

  1. Iri.. aku udah lama banget gak punya waktu untuk baca buku 🙂

    Anyhow kalau ditanya apa makna rumah bagiku, maka aku akan jawab begini:

    Rumahku adalah kumpulan cinta, tempat semua kembali pulang rasakan hakikat keluarga.

    Sesederhana itu 🙂

  2. Hahhh rumah,… entah kenapa, saat aku ada dikelilingi sahabat-sahatku, aku merasa ada di rumah (maklum, perantauan), . . kapan aku punya rumah pribadi ya? okelah, kalau nnt hendak bngun rumah, aku mau baca buku ini (sekarang lagi bokek, buk?!)…. . 🙂

  3. @ eka-sir : hayoo, sempetin baca lagi mbak eka, hihi. btw soal makna rumahnya keren jugaa 🙂

    @ eka armadi : baca dulu sajah bukunyaa, hehe

  4. “Rumah bukan tentang tersedianya daging panggang dan roti bakar, tapi rumah tentang hadirnya orang-orang yang mencintaimu di sekelilingmu!”–Shandy dalam Spongebob Squarepants. 😛

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s