Dear Papua

Hai Papua apa kabarmu disana?


Hari ini 3 Desember 2011, baru ingat dua hari yang lalu hari peringatan HIV/AIDS sedunia dan beberapa hari yang lalu baru saja melihat dalam suatu jurnal Missio, Jurnal Misi Katolik Internasional dibawah departemen HAM. Sebenarnya saat itu saya hendak menulis sebuah draft Essai, tapi akhirnya batal karena saya sungguh tak mengenalmu seutuhnya. Dalam jurnal itu disebutkan bahwa, kantor Dinas Kesehatan tingkat provinsi di Papua Barat melaporkan bahwa pada bulan Juni 2004 kejadian HIV/AID di sana 1.579 pasien, 596 di antara mereka mengidap Aids dan 983 terjangkit HIV. Diperkirakan sekitar 5 persen dari populasi disana telah terinfeksi. Mengingat populasi di negerimu mencapai 2.3 juta, maka angka ini adalah yang tertinggi di negeri kita, karena ternyata kita masih satu bangsa, sama-sama warga negara Indonesia. Itu baru data tahun 2004, dan data terbaru saya belum tahu. Angka kematian bayi juga diperkirakan akan tetap tinggi selama sepuluh tahun mendatang akibat tingginya persentase pengidap HIV/Aids itu. Apakah kau juga gundah?

Masih tentang kesehatan, di jurnal dan tahun yang sama mengatakan bahwa lebih dari 50% anak-anak Papua di bawah usia lima tahun menderita kekurangan gizi. Hanya 40.8% anak-anak Papua mendapatkan imunisasi dibandingkan dengan rata-rata nasional yang mencapai 60.3%. Angka kematian bayi jauh lebih tinggi (186 per 1.000 bayi) dibandingkan dengan angka kematian bayi di tingkat nasional. Angka kematian ibu di Papua Barat tiga kali lebih tinggi dibandingkan di seluruh Indonesia. Aku tidak mengerti apa saja kerjaan tenaga puskesmas atau PNS yang lain disana. Aku tidak bisa membayangkannya. Yang aku tahu pengangkatan PNS di negeri ini tiap tahun ada, tapi mungkin mereka berjubel di Kota. Soal pendidikan kabarnya tidak jauh berbeda.

Kabarnya Budaya setempat selalu dijadikan kambing hitam atas penyebaran HIV dan kondisi kesehatan di daerahmu. Aku pikir bukan itu, mungkin ada semacam kesenjangan mengenai pelayanan, penyebaran tenaga kesehatan, dan tenaga surveilan kurang memadai atau jangan-jangan jatah pelayanan kesehatan dan pendidikan untuk pendudukmu terlalu banyak dikorupsi. Sungguh suaramu tidak sampai di wilayah indonesia tengah ini.

Masih tentang kamu, bulan November lalu sekitar tanggal 10, kabarnya mahasiswa asal negerimu di Bali dan Jakarta di intimidasi. Di Jakarta sekelompok gabungan TNI dan Polri menggeledah asrama Putra Papua yang ada di bilangan Tebet, Jakarta Selatan. Begitu juga di Bali, seseorang yang mengaku intel kepolisian daerah Bali melakukan pemeriksaan di asrama Putri Papua di jl.Dr Goris Denpasar. Padahal mereka tidak membawa surat resmi ataupun menjelaskan tujuan yang jelas terhadap pemeriksaan tersebut. Mungkin kau sudah biasa diintimidasi seperti itu, tapi ini sungguh tidak adil.
Oh ya, sebenarnya aku tidak terlalu mengenalmu. Kau boleh mengkoreksi jika ada kesalahan dalam tuturku. Aku mengenalmu hanya dari media, dan kau tahu sendiri apa isi media kita. Ketika kecil aku mengenalmu sebagai tempat pemberontak yang menurut pesan yang kutangkap dari media kalian suka membuat kerusuhan. Aku tahu dirimu dari sejarah, saat kecil aku membayangkan gagahnya Yos Sudarso atau siapa lagi aku juga lupa ketika memperebutkan daerahmu. Sungguh aku tidak menemukan suatu kejanggalan status politik rakyat dan bangsa Papua yang ternyata digelapkan oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Pemerintah Amerika Serikat, Pemerintah Belanda dan Indonesia. Dan setelah itu bertahun-tahun kau hidup dibawah intimidasi. Soal freeport kabarnya baru akan berakhir kontraknya tahun 2041, sekitar 30 tahun lagi. Aku tak tahu apakah saat itu kau masih bertahan. Dan entah apalagi, yang jelas aku merasa sangat angkuh sebagai saudara sebangsa tidak pernah mencoba mengenalmu.

Apakah kau masih percaya kita saudara? Walaupun secara fisik kita tidak satu ras tapi Ibu Meutia Hatta mengatakan secara Antropologis kita saudara. 600 tahun yang lalu Kesultanan Tidore mempunyai hubungan kekuasaan dengan pesisir Papua. Kenyataan bahwa Papua merupakan bagian dari Indonesia sedikitnya telah terekam dari hubungan antara Kesultanan Tidore dan Irian Barat (Kompas.com), mungkin kau lebih tahu tentang hal ini.

1 Desember kemarin ulang tahun OPM (Organisasi Papua Merdeka), kalau boleh saya ingin mengucapkan ulang tahun yang ke-50 itu. Kalian keren tak lelah memperjuangkan hak-hak yang harusnya kau nikmati. Kawanku bilang kalian seperti Zapatista, tapi mungkin kalian lebih suka disebut seperti itu, terkesan gagah. Mungkin sebenarnya kalian lelah menjadi bagian negeri ini dengan kebijakan-kebijakan yang mencla-mencle. Dengan janji otonomi yang nyatanya sebatas wacana. Saya dan mungkin orang-orang yang peduli terhadapmu akan lebih bahagia jika Papua tetap menjadi bagian dari Indonesia, tetapi apalah artinya jika pada akhirnya Papua tidak dapat menikmati kemerdekaan sesungguhnya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s