Munti Gunung, Episode Salah Kostum

Bali itu Indah, tetapi Bali itu bukan Pantai Kuta, Kawasan Seminyak, kawasan wisata bukit Pecatu, Sanur, tanah Lot, dan Ubud, Lebih dari itu. Meski kau katakan Bali itu surga, tapi tak menjanjikan bagi semua masyarakat Bali sendiri.

Pagi itu (Minggu, 20 Nov) kawan saya Kadek Diah mengirim pesan singkat, “Besok ada kuliah? Ikut Bu Yanti ke Munti mau?” Tanpa berpikir panjang saya meng-iyakkan ajakan kawan saya tersebut “Mau dong, jam berapa?” jawabku. Ini merupakan kesempatan langka menurutku, kebetulan juga tidak ada jam kuliah hari senin keesokan harinya.

Jadi ceritanya dosen saya itu punya project pemberdayaan dan pendampingan masyarakat di daerah munti itu. Project yang dikerjakan disana yaitu progran Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM). Daerah munti merupakan pilot project untuk STBM di wilayah Bali. Project itu sudah dimulai sejak bulan September lalu, jadi saat ini tinggal monitoring untuk jalannya program.

Muntigunung merupakan suatu daerah di Kabupaten Karangasem, wilayah paling timur pulau Bali. Daerah ini termasuk dalam kecamatan Kubu. Jarak dari Denpasar dapat ditempuh selama kurang lebih tiga jam. Hampir sama dengan jarak tempuh ke daerah wilayah barat, Gilimanuk. Daerah ini ekonomi penduduk bisa dibilang lebih banyak menengah dibawah. Dan kesehatan masyarakat disana sangat jauh dari standart. Apalagi dari segi sanitasi, meskipun penduduk sudah memiliki rumah permanen dan beberapa lantai rumahnya sudah bukan tanah tetapi rata-rata mereka tidak memiliki jamban. Akses air disana juga sangat kurang karena Muntigunung merupakan wilayah pegunungan. Meskipun Munti bukan daerah yang gersang tetapi mereka susah mendapatkan air disana. Dulu ketika belum ada program-program pemberdayaan disana, penduduk Munti terkenal sebagai peminta-minta atau menjadi Gepeng di kota, khususnya Denpasar. Tetapi sejak ada program pemberdayaan dari beberapa yayasan dan LSM yang bekerjasama disana masyarakat diberi keterampilan untuk membuat kerajinan dan kegiatan ekonomi berbasis masyarakat lainnya, pendidikan anak-anak juga diperhatikan, dan pendidikan kesehatan terutama sanitasi juga mulai dilakukan.

Penduduk di daerah Munti yang ekonomi masih dibawah standar sekitar seribu KK lebih. Mereka dibagi menjadi sekitar 35 kelompok, masing-masing kelompok terdiri dari 30 an KK. Kelompok tersebut dibagi berdasarkan kelompok kerja membuat kerajinan atau kegiatan perekonomian lain dan program lain misalnya STBM. Munti merupakan wilayah pegunungan yang berbukit-bukit. Wilayah tertinggi adalah daerah Cangkeng dan Kul-kul. Daerah Cangkeng tidak dapat ditempuh dengan kendaraan sedangkan daerah kul-kul bisa ditempuh menggunakan sepeda motor karena sudah memiliki jalan beraspal. Penduduk di Munti rata-rata jarak tempat tinggalnya jauh antara rumah satu dengan rumah lainnya. Pemandangan di Munti tidak jauh berbeda seperti di Bali pada umumnya, view Gunung, Perbukitan, dan laut lepas bisa disaksikan dari wilayah teratas Munti. Anak-anak bermain menyatu dengan alam. Hijau biru menjadi satu. Aktivitas penduduk tidak terlalu beranekaragam. Listrik dan televisi sudah dapat dijangkau masyarakat. Tempat ini bukan tempat terisolasi, tapi sangat jauh jika dibandingkan dengan hingar bingar Pantai Kuta, Kawasan Seminyak, kawasan wisata bukit Pecatu, Sanur, tanah Lot, dan Ubud.

Senin (21 November 2011), kami jadi ikut ke Munti, janjian pukul 06.00 Wita di daerah Pliatan Gianyar. Tetapi sialnya saya bangun terlambat, pukul 05.45 saya baru bangun, itupun karena ditelepon teman saya. Saya berangkat memakai skinny Jeans dan baju berkerah yang biasa dipakai ke kampus, kemudian sempat berpikir memakai sepatu kets tetapi rupanya karena buru-buru malah memakai sepatu flat, bukan pantofel juga sih, yang biasa dipakai ke kampus. Malu sekali baru sampai di Gianyar pukul 06.50. kami berangkat bersama seorang dosen dan dua kepala suku daerah Munti. Eeh, bukan ketua suku maksud saya, dua orang tersebut Pak Ngurah dan pak Pica merupakan orang yang sejak awal pedekate dengan masyarakat Munti. Merekalah Bapaknya orang-orang Munti.

Sesampai di Munti pukul 10.00 Wita, kami berhenti di kantor Yayasan (eh, mohon maaf saya lupa namanya). Pokonya yayasan itu bekerjasama dengan LSM dian desa dan untuk program STBM bekerjasama dengan Mitra Samya. Setelah makan kurang lebih 15 menit kami melanjutkan perjalanan ke Cangkeng. Disana kami sempat berkenalan dengan beberapa pengurus yaitu Mas Ari dan mbak Endang, tapi belum sempat ngobrol mereka mengurusi bidang apa. Pas mau berangkat mas Ari bilang “lah ini kok salah kostum, pake sepatu begituan? Mau pinjem sandal gimana?” hihihi, tentu saja saya malu. Saya Cuma jawab, “gapapa kok mas pake ini aja.”

Salaahh Kostummmm

Setelah berjalan sekitar 15 menit kami sampai di suatu balai tempat suatu kelompok mengerjakan kerajinan. Disana kami berkenalan dengan orang-orang kelompok tersebut. Mereka sangat ramah, kami disambut sangat hangat, berbeda sekali dengan ketika saya semester dua waktu kemah disana. Dulu saya merasa mereka sangat tertutup dengan orang luar, hari itu saya melihat semangat di mata mereka. Lanjut perjalanan ke Cangkeng dengan berjalan kaki, jalannya naik turun. Kami kesana juga bersama sanitarian puskesmas Kubu. Cukup lama kami berjalan sekitar setengah jam. Saat itu udara panas sekali, dan ternyata cukup melelahkan, apalagi dengan skinny jeans dan sepatu cewek itu sangat membatasi gerak dan peredaran darah. Alhasil saya hampir pingsan sesampainya di Cangkeng atas. Tapi capek itu terobati setelah kabut tipis tiba-tiba turun dari balik bukit lalu diskusi antara fasilitator STBM disana mas Oky, bersama dosen saya, sanitarian puskesmas, dan Motivator masyarakat disana dimulai. Mereka sangat antusias dengan program-program yang ada. Terutama saat itu membahas program STBM sih. Untuk program lain seperti kegiatan perekonomian berbasis masyarakat memang ada beberapa yang katanya pada akhirnya tidak mau mengikuti, bahkan tetap ada yang menjadi gepeng di Kota, tetapi setidaknya program-program yang ada akan menjanjikan anak-anak dan generasi muda disana menjadi lebih baik.

Pukul 14.00 kami sudah turun ke kantor yayasan lagi, dan siang itu ditutup dengan indah. Makan tahu isi ala Munti. Kayaknya disana tidak ada industri tahu sih, jadi tidak tahu darimana asalnya. Dan tidak lupa sebelum turun kami juga sempat foto-foto lengkap dengan kostum yang salah.

Advertisements

3 thoughts on “Munti Gunung, Episode Salah Kostum

  1. ini yg proyek bu yanti biogasnya uda jalan hepi? kalo ga salah yg di suwung ya?
    wah aku dulu pas ga ikut ujian pak hery disuru bikin laporan ttg STBM dah juga, tau gitu kan nanya2 sama kamuu tooh 😀

  2. mas eko : thx 🙂

    Doi : proyek yang biogas kurang tahu kabarnya doi, kayaknya belum, masih sibuk yang proyek limbah dan STBM ini kayaknya.
    ooh, kok bisa ujian pak Hery tentang STBM, dapet Comdev jugakah?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s