Menulis, soal Membiasakan Diri

Katanya hobby itu ibarat pisau, jika tidak diasah akan tumpul. Bagiku menulis juga begitu, jika tidak sering latihan, akan terasa tumpul dan kehilangan nilai rasa dalam menulis.

Aku selalu ingat pesan kak Le, seorang senior di Akademika “Jangan pernah ngaku anak Persma jika tak pernah menulis.” Pesan yang lumayan menohok, bagi kami dan saya sendiri sebagai orang yang ngaku-ngaku anak Persma. Menulis hanya menjadi suatu ritual diantara komunitas kami. Ritual bulanan atau periode waktu tertentu ketika kami akan menerbitkan sebuah produk jurnalistik. Dalam ingatan saya yang teringat aktif menulis itu ketika tahun kedua dalam komunitas ini. Tahun pertama itu istilahnya magang. Jadi ketika magang kami hanya diberi tugas menulis untuk flyer kegiatan insidental di kampus, misalnya pemira (pemilu raya). Tapi pada tahun tersebut saya tidak kebagian dalam pembuatan flyer, melainkan harus membuat suatu bentuk pengembangan sumberdaya manusia yaitu membuat kliping koran. Berharap kliping itu dapat memperdalam wawasan kami untuk menulis.

Menulis

Akhir tahun pertama mulai diminta menulis di produk utama kami, tabloid waktu itu. Rubrik kasa-kisi, sebenarnya kurang paham apa isi rubrik ini seharusnya. Pemred, yang saat itu dijabat kak Dwi, mengatakan “kamu bisa menulis apa saja dalam rubrik ini, tentang pendapatmu mengenai suatu topik atau apapun yang membuat kamu atau orang lain interest.” Baru kusadari ternyata bentuk tulisan semacam itu disebut essay. Senang, tentu saja itu ungkapan yang dapat diberikan ketika tabloid sudah terbit. Dan dengan berbangga hati membagi-bagikan tabloid tersebut, padahal kalau sekarang dibaca tulisan itu sungguh menggelikan.

Tahun kedua, mulai diberikan keperayaan menulis (lagi). Kali ini berita langsung, menulis laporan utama (laput) untuk buletin insidental student day. Waktu itu pemrednya sudah digantikan oleh kak Dian Purnama. Agak galau ketika mendapat tugas itu. Sebenarnya saat itu yang seharusnya pegang laput adalah Veroze, kawan saya. Tetapi karena dia menjadi panitia gugus dalam student day tersebut maka liputan dan penuliskan dihibahkan ke anggota redaksi pelaksana. Itu pertama kali harus melakukan reportase dan harus menulisnya. Saya sejak SMA tidak pernah mendapat pendidikan jurnalistik apalagi menulis, tentu saja hal tersebut terasa berat. Tetapi akhirnya selesai juga, walaupun menulisnya terasa sangat lama saat itu. Keesokan harinya, puas sekali ketika membagi-bagikan buletin tersebut kepada mahasiswa baru.

Setelah itu mulai diberikan keperayaan menulis beberapa laporan khusus dan sesekali laporan utama. Tahun kedua itu kami cukup sering menerbitkan produk jurnalistik. Dan tentu saja sekali lagi bangga ketika ada yang membaca tulisan-tulisan kita. Memasuki tahun ketiga, masa-masa suram. Terbitan jarang sekali, masa ini keemasan menulis sudah mulai bergeser digantikan anggota muda. Menulis hanya untuk rubrik seperti profil atau opini.

Inilah mengapa akhirnya saya katakan bahwa menulis hanya ritual diantara kami. Mengapa menulis dibedakan berdasarkan jaman. Saatnya yang muda yang menulis, begitu kalo boleh diistilahkan. Sebenarnya tidak juga sih, semua anggota boleh menulis media kami. Tapi entah mengapa menulis itu akhirnya dianggap beban. Sebenarnya kami juga punya website, dan entah mengapa kami juga malas menulis untuk di website. Kalau boleh disimpulkan mungkin menulis akan menjadi suatu prestige ketika ada yang membaca. Setelah itu ada yang antusias menanggapi isi tulisan atau hanya sekadar gaya penulisan. Nah, website kami mungkin belum terkenal seperti Balairung Press milik lembaga pers mahasiswa Balairung UGM, mungkin itu salah satu alasan malas menulis di Websita.

Cara Belajar Lain
Banyak jalan menuju roma, jadi menulis tidak hanya dapat dilatih dengan menulis dalam produk-produk khusus tetapi ada media lain yang disebut new media. Media ini berupa media sosial seperti web atau blog pribadi, facebook, atau thumblr, dan lain-lain.

Pertama kali belajar new media sekitar awal tahun 2010, waktu itu mengikuti pelatihan jurnalisme warga di Sloka Institute. Blog nya sih sudah punya sejak setahun sebelumnya, waktu itu diajari bikin blog oleh BBC (Bali Blogger Community). Tapi untuk mulai menulisnya baru setelah pelatihan itu. Isinya sih gak jurnalisme warga banget, malah lebih banyak curhatnya. Melalui blog saya mulai belajar mengenai gaya penulisan, maksud hati sih belajar nulis feature, tapi jatuhnya berita langsung juga. Kadang malah tulisan tak berbentuk, ya bisa dibilang gagal lah.
Ternyata walaupun memiliki blog juga tidak menjamin update terus sampai pada akhirnya butuh suatu tantangan untuk belajar menulis. Mengikuti pelatihan dan kompetisi menulis. Suatu hari kawan saya dari LPM Suara USU pernah menegur “Anak Persma kok gak punya tulisan.” Aduh, malu setengah mampus deh. Waktu itu Suara USU akan mengadakan pelatihan jurnalistik tingkat lanjut, setiap LPM yang akan mengirimkan delegasi harus mengirim sebuah tulisan yang kurang lebih berbentuk feature. Tetapi karena saya malas nulis dan tidak punya tulisan yang layak untuk dikirim, alhasil saya batal ke medan. Sejak saat itu berpikir rasanya butuh suatu tantangan untuk belajar menulis.

PJM 2010

Suatu ketika di twitter seorang kawan menyertakan link suatu kompetisi menulis Essay. Saya pikir essay bisa menjadi suatu langkah awal untuk belajar. Kemudian mulai searching bagaimana menulis essay dan apa saja perbedaannya dengan opini atau artikel. Waktu itu bulan Oktober 2011, ada 3 kompetisi yang menantang. Tetapi sekali lagi karena malas menulis Cuma dua saja yang dapat diikuti. Satu essay saya tulis dalam beberapa hari dan dipersiapkan dengan matang. Dan satunya saya tulis beberapa jam dan dikirim satu hari sebelum deadline.

Essay tanpa persiapan itu masuk dua puluh besar, dan beberapa hari kemudian menjadi juara satu. Saya sedikit bertanya-tanya soal kompetisi menulis ini. Padahal dalam tulisan itu menurut saya ada beberapa kelengkapan penulisan yang kurang. Bahkan tulisan kawan saya Mas Wisnu dari Balairung menurut saya lebih bagus. Dia biasanya menjadi langganan juara, tetapi malah tidak masuk tiga besar. Sampai sekarang masih bertanya-tanya, padahal kualitas tulisan dia bagus loh cek deh. Menang dalam kompetisi itu bukanlah target. Artinya target saya memang bukan juara. Target saya adalah bagaimana dalam satu bulan tersebut saya mau menulis.

Dan, hari ini (Sabtu, 19 November 2011). Masih tentang belajar menulis, aku dan ketiga temanku Veroze, Henny, dan Deedee mengikuti pelatihan blogshop. Pelatihan ini seputar blog dan workshop menulis. Yang diajarkan sih citizen journalism dan beberapa kiat-kiat menulis di blog. Kami menikmati sekali, dan sangat antusias mengikuti pelatihan ini. Walaupun dalam standar kami pers mahasiswa, pelatihan ini standart saja. Artinya kami sudah melewati beberapa pelatihan yang materinya lebih berat dari ini. Bahkan saya merupakan alumni pelatihan jurnalisme tingkat lanjut Pena emas I pernah belajar jurnalisme advokasi dan telah diberikan beberapa materi investigasi. Walaupun kami tidak rajin menulis tetapi kami membutuhkan suatu pelatihan yang lebih mengutamakan bagaimana agar tulisan yang kami buat tidak dangkal ketika dibaca.
Di akhir pelatihan semuanya terjawab. Kegiatan ini namanya workshop, tentu ada latihan menulisnya. Kami diminta menulis apapun yang ada di benak kami dalam 15 menit. Hmm, saya nyerah sih, 15 menit saya Cuma dapat menulis dua paragraf. Tetapi ketiga teman saya yang lain selesai. Dari penulisan tersebut diambil tiga besar. Henny teman saya tulisannya masuk tiga besar, tulisan Henny memang menarik dan cukup bagus dengan gaya penulisan feature. Tetapi alangkah kecewanya saya ketika yang menang adalah tulisan yang menurut saya hanya berbentuk curhatan. Hmm dari segi judul sih memang menarik. Tapi kalau soal curhatan itu nggak banget. Dalam hal ini saya bukan berbicara mengenai menang atau kalah. Disini saya melihat dari sisi subjektivitas dan objektivitas. Dari kedua kasus, kompetisi dan pelatihan tersebut saya melihat ada suatu subjektivitas dalam penilaian penulisan. Kalau guru bahasa indonesia saya SMA dulu bilang bahasa itu memang soal nilai rasa. Memang pada akhirnya harus ada semacam pattern yang membuat suatu tulisan harus dipandang objektif. Tapi nyatanya subjektivitas mendominasi.

Tetapi apapun itu saya selalu akan ingat pesan kak Dedy, seorang kawan penulis, alumni catatan kaki Universitas Hasanuddin. Waktu itu kuanggap saja dia sedang melegakan hatiku tentang kompetisi yang pernah saya ikuti dan menang itu. “Soal penilaian tulisan mungkin saja panitia mencari tulisan yang bernas dalam isi, bukan dalam bentuk.” Ia juga mencontohkan seorang Harpiana Rahman atau biasa disapa Ana, alumni Caka juga. “Dia sering ikut lomba, padahal dia terkadang tak pernah peduli dengan tanda baca yang parah dalam tulisannya, Tapi tetap saja selalu menang,” begitu kak Dedy katakan. “Itu bisa dimungkinkan karena narasi, argumen, data dan faktanya yang berkualitas. Urusan EYD nomor sekian, ” Dedy menambahkan. Sementara hanya kalimat-kalimat itu yang bisa melegakan. Dan saya akan belajar lebih banyak lagi. Dan soal curhatan itu apa mungkin sebuah genre baru dalam penulisan?

Advertisements

4 thoughts on “Menulis, soal Membiasakan Diri

  1. kebetulan aja sering dapet info pelatihan mbak, keseringan gratisan jadi ya ikut-ikut ajaa..
    tulisan di blognya mbak eka keren loh, saya suka gaya penuturannya.

  2. saat ini emang lagi trend tulisan bergendre “curhatan” apalagi dalm kompetisi blog…
    Pernah saya ikutan lomba nge-blog dengan tema tertentu, gaya tulisan saya agak seriusan dikit , meskipun dari kulaitas masih jauh…
    eeh..ternyata, pemenagnya adalah penulis yang gendrenya “curhatan, “galau”, atau apalah namanya saat ini..

    emang sih kembali ke selera…
    Selera curhat 🙂

  3. iya lho gus, kadang kecewa juga, jangan2 publik emang sedang tidak berminat serius2 an dgn lebih memilih tulisan-tulisan yang bersifat menghibur. mungkin saja mereka berpikir yang serius hanya akan menjadi wacana. tapi balik lagi kita kan pengen belajar nulis yang bener.
    terlalu banyak yg mengaku penulis sih, jd mesti selektif juga ikut kompetisi ataupun pelatihan2. 😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s