Sarbagita Semoga Engkau Tidak Labil

“Kayak ababil aja sih kamu, cuma kayak gitu aja pake coba-coba segala.” itu tanggapan temenku di ujung senja itu.

Kondektur Wanita

Yakk…akhir pekan itu akhirnya aku naik si biru mempesona, trans Sarbagita. Sarbagita itu bukan nama makanan, melainkan singkatan dari Denpasar, Badung, Gianyar, dan Tabanan. Jadi ceritanya di Bali sekarang memiliki alat transportasi umum yang disebut trans Sarbagita. Seharusnya ini menjadi kabar gembira ya bagi kita semua. Untuk dalam waktu dekat ini Sarbagita baru dioperasikan satu trayek yaitu jurusan Batubulan-BTDC Nusa Dua. Berdasarkan data dari Dinas Perhubungan, Informasi, dan Komunikasi Provinsi Bali yang kudapat dari balebengong.net, Road Map Trans Sarbagita sebagai pelayanan transportasi publik telah dimulai sejak tahun 2009. Tahun 2009-2010 ditetapkan sebagai tahap perencanaan dan sosialisasi awal. Tahun 2011-2013 masa pengenalan layanan dan membangun citra. Tahun 2014-2016 masa memantapkan dan mengembangkan layanan. Dan pada Tahun 2016 Moda transportasi publik menjadi pilihan warga dengan pengembangan layanan berkelanjutan.

Wahh, andai semua itu terwujud tentu kota-kota di Bali khususnya Denpasar (mungkin) gak akan macet lagi. Denpasar memang ga semacet kota-kota metropolitan seperti Surabaya atau Jakarta, tetapi sumpek juga andai tiap jam berangkat atau pulang kerja macet. Sejauh ini kota ini masih nyaman dari “Macet” dan yang paling aku suka sedikit terbebas dari bunyi-bunyi klakson. Walaupun di titik-titik tertentu terkadang si Komo Lewat juga.

Pagi itu pukul 11.00 Wita aku tiba dirumah temenku, mampir sejenak menitipkan motor sembari menjemput dia. Hari itu kami memang senaja ingin mencoba Sarbagita. Setelah berjalan kaki sekitar 15 menit tibalah kami di terminal Batubulan. Sebuah terminal yang keberadaannya mungkin sudah semakin terlupakan. Di terminal mungkin seluas pekarangan depan rumah embahku itu hanya ada beberapa angkot berwarna lebih pudar dari Sarbagita. “Angkot disini yang masih efektif hanya jurusan karangasem,” kata temanku. Kami mendekati halte deket Sarbagita berdiri gagah. Setelah melihat-lihat jadwal keberangkatan kami segera naik kedalam bus.

Tarif pelajar/ mahasiswa


Di dalam bus ternyata Adem, ada beberapa penumpang yang sudah menunggu didalam, “Eh, banyak juga ya ternyata yang naik,” temanku berkelakar. 15 Menit berlalu, Sarbagita merangkak pelan. Perjalanan Batubulan-BTDC sekitar 1,5 Jam. Dalam perjalanan itu juga disertai macet di beberapa titik seperti daerah Padang galak dan Simpang Siur. Tarif naik Sarbagita sangat terjangkau, Rp 3.500 untuk umum dan Rp 2.500 untuk pelajar dan mahasiswa. Sepanjang perjalanan kami sangat menikmati. Kami malah banyak berkhayal andai Bus ini sudah bisa dinikmati semua kepala di kota ini mungkin keren seperti di Film-film korea. Tapi banyak juga pertanyaan yang muncul selama perjalanan itu, tentang jarak antar halte dan usut punya usut ternyata si Sarbagita memang digunakan sebagai penghubung antar daerah pariwisata. Tentang andaikata Sarbagita memiliki jalur khusus seperti Trans Jakarta, tapi tentu akan buang-buang uang jika transportasi ini pada akhirnya mandeg. Tentang penumpang yang kebanyakan baru coba-coba. Tentang trayek yang tidak serempak. tentang orang-orang yang tinggal di daerah pemukiman tentu akan sulit menjangkau halte. Tentang upaya pembatasan kendaraan yang rupanya belum terdengar. Dan tentu banyak lagi

Sarbagita memang muncul ketika kota yang tak beberapa titiknya luput dari perencanaan itu sudah keburu berdiri, jadi tentu banyak catatan dari saya atau siapa saja. Jadi Sarbagita, jadilah lebih baik, jadi saudara-saudara nikmatilah Sarbagita. Nikmatilah kenyamannya. Jangan ada lagi yang berpikir mencoba memakai fasilitas umum terkesan Labil dan hanya musiman. Sarbagita semoga engkau juga tidak Labil.

Advertisements

2 thoughts on “Sarbagita Semoga Engkau Tidak Labil

  1. kk belum sempet nyoba malah..

    kk berharap sih ga cuma dicoba ya, tapi digunakan..

    apalagi katanya subsidi taun depan ga ada untuk BBM. kk setuju itu biar kendaraan makin berkurang, cuman… fasilitas kendaraan umum, sepeda, bahkan pejalan kaki ditingkatkan..

    misalnya bis ini, mustinya ada bis pemancing dari jalan2 diluar jalur sarbagita..
    pemerintah (pemrov dalam hal ini) juga harusnya mewajibkan PNS pake jalan ini. kasi aja perintah, yang pake kendaraan pribadi ga dapet ongkos transpot, yg naik bis yg dapet. yah awal-awal cari dines yg sejalur lah, dan gratis juga gapapa..asal harus naik ini. kalo rame, nanti juga warga akan tertarik.. lagian biar PNS ada keliatan kontribusinyaaa..

    sekolah-sekolah juga mungkin tiap minggu ada program naik sarbagita. dibuatin konsep yg menarik dan kreatif gitu.. acara touring kek. perkenalan wilayah denpasar secara langsung kek..

    btw, baru tau kondekturnya cewek. kamu ngelamar ge.. haha

  2. saya sih waktu itu iseng2 aja coba kak. penasaran, mumpung bus nya masih cling, hayo buruan sono coba keburu jelek loh.
    ide bagus itu kalo pemda punya ide22 kreatif gt, tapi masalahnya trayek nya ga bisa dibikin serentak, lagi2 maslah dana..

    sesuatu banget deh kalo aku ngelamar kondektur, alhasil pasti rame deh. 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s