Kisah Mudik, saat Lebaran Kayak Kamu

hutan ini

ini loh

” Kubilang lebaran ini kayak kamu, ‘Gak Pasti,’ ini kutipan kalimat yang kudapat dari timeline mbah Sudjiwotejo pagi itu”

Benar juga lebaran tahun ini memang gak pasti, seperti sikapmu. Kadang berlagak serius, kadang kelihatan main-main, bikin hatiku gak cuma lelah, tapi benar-benar payah dan capek. Tapi meskipun begitu hatiku lagi happy di lebaran hari ini. Lebih tepatnya sore ini, sesampai mudik dari kampung halaman. Ini yang paling kusuka dari aktivitas blogging.

Yeahhh..pulang kampung, itu yang biasa kulakukan ketika lebaran tiba. Padahal gak ikut merayakan, keluarga di kampung juga cuma satu yang muslim, tetapi wanita yang kupanggil embok senantiasa menanti kehadiran kami ketika lebaran tiba. Aku mudik dari tanggal 27 Agustus lalu, hanya berdua dengan adik tercinta. Ibu masih sibuk dengan pekerjaanya, sementara tanggal 27 itu sepupuku sedang di khitan, terpaksa harus mudik berdua saja. Kampungku itu di ujung selatan Banyuwangi, dekat pantai dengan ombak laut selatan yang bergulung-gulung. Daerah miskin yang tidak begitu subur. Hanya beberapa hektar area persawahan yang masih berfungsi sebagaimana mestinya, lainnya dimanfaatkn sebagai daerah pemukiman. Kampungku tidak tepat sekali berbatasan dengan laut, masih ada hutan yang membentang sebagai batas selatan desa. Hutan yang konon menjadi sumber pendapatan warga setempat dan menyimpan segala apa yang dibutuhkan kami warga daerah umpang karang. Umpang Karang bukan nama desaku, hanya julukan untuk wilayah terpencil bagian dari dusun yang ada di Desa kami, itu daerah kelahiranku.

Benar saja tentang isi hutan itu, aku masih inget banget ketika aku SD kelas 1-2 ibu dan kakek ku sering masuk hutan untuk mencari bambu hutan. Bambu tersebut kemudian dijual kepada pemborong atau kadang dibikin gedeg alias dinding bambu. Bapak kadang juga menyertai ibu dan kakek, jika tidak sedang sibuk mengajar. Saat hutan terdekat dengan pemukiman belum digundul ibu juga sering mencari kayu disana, untuk dijual. Saat itu aku dan adik masih kecil, sekitar 15 tahun yang lalu. Tapi hutan tersebut kini sudah berubah fungsi menjadi lahan pertanian. Proses alih fungsi lahan itu sedikit menggelikkan.

Ceritanya di daerahku kala itu diduduki oleh seorang mandor perhutani yang diktator, namanya pak Sardi. Tau sendiri lah, kala itu masih sangat kuat pengaruh kepemimpinan Soeharto. Si Mandor perhutani itu sudah beristri, rumahnya di dekat kota kecamatan. Tapi rupanya dia tertarik juga dengan kembang desa di daerahku. Kedua orang itu akhirnya menikah siri, dan entah bahagia atau tidak sebenarnya mereka yang jelas rumah kembang desa itu semakin mentereng. Selama bertahun-tahun mandor itu tinggal di daerah kami, alhasil gak ada ceritanya orang berani nyuri kayu-kayu di hutan itu. Gimana mau nyuri rumah istri siri si mandor itu dibibir hutan dan jalan utama wilayah itu.

Akhirnya tibalah era orde baru tumbang bersamaan tumbangnya sang mandor tersebut. Sekitar akhir 1998 Mandor tersebut sakit, konon katanya terserang stroke. Ia harus benar-benar tinggal dirumah istri tua di dekat kecamatan. Bersama tumbangnya orde baru dan semakin tingginya keserakahan yang menjadi-jadi karena tertahan selama waktu tersebut. Hilang sudah yang kusebut hutan itu. Kini hutan itu menjadi huma, masih ada pohon-pohon jati disana tapi tak layak kusebut hutan lagi. Gunung disitu tak tampak hijau lagi, malah-malah di puncak gunung yang disebut-sebut gunung Tumpang Pitu telah dieksplorasi perusahaan asing sebagai tempat pertambangan emas.

Woww..memang jadinya warga disana masih bisa bergantung terhadap hutan itu, dari hasil pertanian maupun tambang emas. Tapi hutan itu sudah tak layak disebut hutan lagi, karena hanya menunggu waktu saja pohon-pohon disana tentu takkan tumbuh dengan baik lagi.

Hari ini aku kembali ke kota, melanjutkan kehidupan biasa, bukan menjauh dari desa tercinta. Maksud hati sih ingin sedikit mendapat cerita. Kiranya nanti ketika kembali akan lebih berguna. Dan empat hari tidak berjejaring sosial disana tentu membuat tanganku gatal. Mana tahaann… sore ini sesampai dirumah, setelah makan langsung buka email, blog, dannn taraaaa… I’m So Happy.

Buat kamu yang kusebut-sebut seperti lebaran, dilarang marah dan protes. *Hug
Salam kasih tiada tara.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s