hey..indonesia ku,,inikah 65 tahun mu

hahaa,,ini sebenarnya hanya tulisan sebagai ungkapan kekesalan,,tapi karena masih suasana hari kemerdekaan, ya pake judul itu cukup menarik lah

masih menyoalkan keuangan rektorat yang super duper belibet, y ini sih sebenarnya harus udah kelar dari beberapa waktu lalu. tapi karena susahnya nyari namanya NPWP alias nomor pokok wajib pajak dagang nasi, jadi terbengkalai. berawal dari workshop yang beberapa bulan lalu. dan sialnya saya jadi bendaharanya. dapet kucuran dana dari rektorat. yang lebih dari lumayan.walopun gak menutupi seperempatnya. ketika uang udah dipakai, eh ujung-ujungnya gak enak. huuhh..
jadi sekarang saya jadi di uber-uber ama bendum (bendahara umum) buat cepat menyelesaikan ini. dan… sore tadi (18 agustus 2010) aku dan kawanku (yang pada saat workshop sebagai ketua panitia) mencoba-coba masuk di warung padang. aku sih yang punya usul masuk warung itu, karena sebelumnya aku pernah liat warung masakan padang punya NPWP. “bu, disini punya NPWP gak?? kita mau pesen nasi, tapi boleh gak minta fotocopy NPWP nya dulu, buat di lampirin dulu” kata Angga si ketupat.
wajah si ibu pemilik warung masakan padang tu uda gak enak banget lalu menjawab ” ya gak boleh dik, kalo udah pesen baru boleh minta NPWP, ntar gak enak ujung-ujungnya” kata si ibu dengan nada judes. kayaknya sih si ibu lagi puasa. pasti sangat laper banget nunggu waktu buka tiba.
akhirnya kami berdua keluar dari warung itu dengan langkah gontai.
sebelumnya aku uda nyari tu makhluk NPWP di warung bu “Risma” namanya. ya warung kecil tpi terkenal lah di kalangan pelajar dan mahasiswa. tapi ternyata gak punya. malah si ibu nya nanya “lha bikin kayak gitu dimana sih dik???”. haah,,saya juga gak tau bukkk,,hahha..
ok, balik dengan cerita hari ini..kami pun putus asa. (padahal baru masuk satu warung). tapi dijalan kan mikir-mikir emangnya ada apa warung yang mau ngasi NPWP gratisan tanpa memesan nasi mereka.dan…sampailah di markas,
hehe,,sebeng mbak bendum jauh tidak mengenakkan lagi. haduhhh..
akhirnya semua berpikir keras,,untungnya kami (organisasi kami) lagi bikin jaket. telepon koordinatornya. ya inilah akhirnya. mengada-ada. selamat datang di dunia fiktif. gak tau ini sebuah kejahatan atau bukan. apakah aku harus malu atau nggak. dan aku pikir sesuatu yang gak umum ini, sebenarnya udah umum banget. sempet juga sih sebelum ayahku meninggal sering ngobrol-ngobrol masalah keuangan di departemen tempat beliau bekerja. ya kayak gitu juga.
yang atas sedikit menekan, yang bawah mencari alternatif karena tidak mau terlalu ditekan.
ini hanya potret kecil dari sebuah indonesia. siapa sebenarnya yang salah,,rektorat???mahasiswa??pemerintah??negara??
yang salah adalah tidak ada ketegasan dari semua pihak ini. sebenarnya memprihatinkan bukan??
berharap tidak akan terus terulang.
ayo indonesia bangkit…jangan begini terus…

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s