5 juni 2009

BUDAYA IBU BEKERJA DAN PENGARUHNYA TERHADAP TARAF KESEHATAN IBU DAN ANAK PASCA MELAHIRKAN.

BAB I PENDAHULUAN 1.1 LATAR BELAKANG MASALAH Kesehatan merupakan salah satu hal yang paling penting dalam kehidupan manusia. Sehat-sakit merupakan suatu rangkaian upaya yang terus-menerus sejak seorang bayi masih dalam kandungan, saat dilahirkan, pada masa pertumbuhan hingga merasa dewasa. Sehat-sakit merupakan proses yang berkaitan dengan kemampuan manusia beradaptasi terhadap lingkungan biologis, psikologis, maupun sosio budaya. Kesehatan dalam keluarga merupakan tanggung jawab bersama bagi anggota keluarga, terutama ayah dan ibu. Tingkat kesehatan keluarga sangat dipengaruhi oleh ibu yang bekerja. Karena bagi seorang ibu yang berperan sebagai wanita karir cenderung kurang memperhatikan kesehatan keluarga. Budaya wanita berkarir telah ada sejak diakuinya kedudukan perempuan dalam sektor publik. Hal ini tentunya melalui beberapa proses perjuangan yang disebut pergerakan wanita. Pergerakan wanita dalam memperjuangkan hak-haknya ini tentunya tidak lepas dari perkembangan revolusi industry di eropa, walaupun pada masa itu wanita hanya boleh bekerja pada sector domestic saja namun hal itu cukup untuk mengawali pergerakan wanita. Pergerakan wanita di Indonesia diawali dengan didirikannya Gerakan Wanita Indonesia Sedar (GERWIS) yang kemudian berkembang mejadi Gerakan Wanita Indonesia (GERWANI). Selain memperjuangkan hak perempuan GERWANI juga turut terlibat dalam dunia politik. Selain itu pergerakan wanita Indonesia juga tidak lepas dari perjuangan ibu kartini. Kemajuan wanita bukan menjadi saingan bagi kaum lelaki tetapi menjadi mitra yang sejajar dan kebanggaan suami. Jaman modern seperti sekarang, wanita bekerja bukan karena tuntutan ekonomi keluarga saja tetapi lebih untuk kebutuhan mengaktualisasi diri, membangun kebanggaan diri, tetapi juga untuk mendapatkan kemandirian secara financial. Selain itu juga untuk memenuhi kebutuhan social-relasional, yaitu untuk mendapatkan kebutuhan penerimaan social dan identitas social dari lingkungan bekerjanya. Hal ini tentu saja menjadi masalah bagi para ibu muda yang baru saja menikah atau seorang ibu yang akan memiliki anak. Bagi wanita yang sebelum menikah telah bekerja maka ia akan kembali bekerja untuk memenuhi kebutuhan di atas. Tetapi masalah yang berkaitan dengan kesehatan akan muncul ketika ia hamil dan melahirkan, karena umumnya perusahaan tempat bekerja hanya akan memberikan cuti yang tidak cukup untuk pemulihan kesehatan ibu serta anak pasca melahirkan. Hal inilah yang melatarbelakangi penulis untuk menulis tugas paper yang berjudul “Budaya Ibu Bekerja dan Pengaruhnya Terhadap Kesehatan Ibu dan Anak Pasca Melahirkan”

. 1.2 RUMUSAN MASALAH

Bagaimana Budaya Ibu bekerja berpengaruh terhadap kesehatan ibu dan anak pasca melahirkan

BAB II PEMBAHASAN

2.1 WANITA BEKERJA

Kerja produksi dan reproduksi merupakan kebutuhan yang sangat penting sebagai proses untuk bertahan dan pembaharuan. Menurut feminisme Marxis kontemporer kerja produksi dan reproduksi merupakan factor penentu dalam sejarah. (Rosemarie:2004). Kerja produksi adalah kerja yang berhubungan dengan pemenuhan kebutuhan dasar sandang, pangan dan papan. Sedangkan kerja reproduksi merupakan memproduksi manusia yang meliputi hamil, melahirkan, menyusui serta mengasuh baik fisik maupun mental serta memampukan seorang anak hingga befungsi sebagaimana mestinya pada struktur social masyarakat. Di dalam system kapitalis umumnya terdapat kecenderungan pemisahan antara kerja produksi dengan kerja reproduksi. Kerja produksi merupakan tanggung jawab pria, sedangkan kerja reproduksi merupakan tanggung jawab wanita. Tetapi teori Marxis menyangkalnya, Feminis Marxis menjadikan kemandirian dan kesejahteraan ekonomi perempuan sebagai perhatian utama dan memfokuskan pada persilangan antara pengalaman perempuan sebagai pekerja dan posisi perempuan dalam keluarga (Rosemarie:2004). Wanita yang berperan dalam kerja produksi tetap tidak akan mengurangi peranannya dalam kerja reproduksi, karena kerja reproduksi wanita tetap tidak diperhitungkan secara ekonomi. Selain itu menurut teori kemasyarakatan Marxis, perempuan dapat mencapai kesadaran diri sebagai kelas pekerja dengan bersikeras, misalnya pekerjaan rumah tangga akan diakui sebagai pekerjaan yang nyata (Rosemarie:2004). Pada zaman sekarang wanita bekerja bukan merupakan tuntutan ekonomi melainkan untuk memenuhi kebutuhan social-relasional. Feminis Marxis percaya bahwa pekerjaan perempuan membentuk pemikiran perempuan karena itu juga membentuk sifat-sifat alamiah perempuan. (Rosemarie:2004). Wanita yang pada masa sebelum menikahnya bekerja, setelah menikah ia akan cenderung kembali bekerja, karena ia membutuhkan kebutuhan untuk aktualisasi diri, kebangaan diri serta telah terbiasa memenuhi kebutuhan financial secara mandiri. Berdasarkan sampel pengamatan, seorang ibu yang kehilangan pekerjaan ia cepat-cepat mencari pekerjaan baru, karena ia merasa bosan hanya melakukan pekerjaan yang itu-itu saja dirumah, tetapi hal ini bukan berarti ibu itu meninggalkan pekerjaan rumah tangga, melainkan menganggap pekerjaan rumah tangga adalah pekerjaan yang nyata. Seorang wanita yang berperan di dalam dua bidang kerja, yaitu kerja produksi dan kerja reproduksi merupakan posisi yang sangat sulit bagi seorang ibu, terutama bagi ibu yang juga akan menjalankan perannya dalam kerja reproduksi. Lingkungan kerja biasanya tidak menyediakan sarana untuk penitipan anak, dan tidak akan dapat memungkinkan bagi ibu untuk menyusui anak. Selain itu perusahaan juga akan susah untuk memberi cuti kepada wanita hamil. Memberikan cuti kepada karyawan perempuan dianggap tidak efisien dan pemborosan. Karyawan wanita yang berkomitmen terhadap anak dan keluarga merupakan tindakan yang tidak kompatibel dengan dunia kerja, bagi perusahaan.

2.2 PENGARUH BUDAYA IBU BEKERJA TERHADAP KESEHATAN ANAK

Kesehatan ibu dan anak sangat dipengaruhi oleh ibu yang bekerja dalam dua bidang, yaitu kerja produksi dan reproduksi. Ibu yang juga bekerja pada dua bidang, cenderung tidak dapat bekerja secara optimal dalam hal kerja reproduksi, karena lingkungan tempat kerja ibu terkadang tidak mendukungnya, begitu pula sebaliknya. Ibu yang bekerja cenderung tidak dapat memberikan ASI yang eksklusif untuk bayinya, padahal berdasarkan penelitian ASI eksklusif memiliki manfaat yang besar untuk anakdibanding dengan susu formula. ASI eksklusif adalah pemberian ASI tanpa makanan dan minuman tambahan lain pada bayi berumur nol sampai enam bulan. Bahkan air putih tidak boleh diberikan dalam tahap ASI eksklusif ini. Pada tahun 2001 WHO menyatakan bahwa ASI eksklusif selama enam bulan pertama hidup bayi adalah yang terbaik. Manfaat ASI eksklusive bagi bayi antara lain : Menyelamatkan bayi dari resiko kematian, Hasil riset di 42 negara menunjukkan bahwa pemberian ASI eksklusif (6 bulan) dapat mencegah 13% dari 10,6 juta kematian balita / tahun. Berdasarkan riset American Academy of Pediatrics, ditemukan fakta bahwa ASI eksklusif dapat mengurangi resiko sindrom kematian mendadak pada bayi yang 90% terjadi pada bayi di bawah 6 bulan. ASI memiliki komposisi paling sesuai dengan kebutuhan bayi, mudah diserap dan dicerna bayi serta mengandung sejumlah zat antibodi yang melindungi bayi dari bakteri dan virus yang berasal dari kolostrum ASI. ASI dapat mengurangi resiko sejumlah penyakit pada anak. Seperti, infeksi telinga, alergi, diare, meningitis bakterial, limfoma pada anak, dan diabetes. ASI merupakan susu paling steril yang dapat diberikan pada bayi. Apalagi jika diberikan secara langsung dari payudara ibu. Sedangkan bagi para ibu ASI memberikan manfaat sebagai berikut, setiap kali menyusui, ibu dan si kecil akan melakukan kontak fisik. Hal ini membuat anak merasa aman, hangat, dan nyaman, serta mempererat ikatan batin ibu-anak. ASI eksklusif dapat mengurangi resiko ibu terkena penyakit kanker payudara dan kanker ovarium. Menyusui juga akan membantu mengembalikan berat badan ibu lebih cepat. Peneliti bernama T. Greiner dalam presentasi hasil risetnya di Georgetown University Institute for Reproductive Health, Washington, D.C., menyebutkan kemungkinan hamil saat menyusui eksklusif selama 6 bulan adalah kurang dari 1%. Jadi, ASI eksklusif merupakan metode kontrasepsi alami paling efektif. Para ibu tidak perlu mengeluarkan uang tambahan untuk membeli susu, botol dan dot. Cukup dengan mengkonsumsi makanan bergizi seimbang, lalu menyusui bayi secara eksklusif. Selain itu ASI merupakan nutrisi terbaik bagi bayi dan sama sekali tidak menimbulkan polusi dan limbah. Saat ini memang pemberian ASI eksklusif bisa dilakukan dengan pemerahan ASI bagi ibu yang bekerja. Jadi ASI diperah satu atau dua minggu sebelum ibu kembali bekerja setelah masa cuti habis, lalu ASI tersebut dapat disimpan dalam kulkas atau termos. ASI tidak akan basi dalam suhu kamar jika hanya disimpan dalam waktu 6 jam, sedangkan jika disimpan dalam termos yang diisi es Asi akan bertahan sampai 24 jam, dan apabila disimpan dalam kulkas ASI bisa bertahan sampai 2-3 mingu. Tetapi cara ini tetap kurang efektif, karena tidak ada jaminan pemberian ASI yang steril. Biasanya pemberian ASI perahan ini akan diberikan oleh pengasuh, hal ini tentu akan membuat hubungan emosional ibu dan anak kurang dekat. Menurut Erikson dalam pembagian fase dan tugas perkembangan anak, pada masa bayi (0-11/2 tahun), kebutuhan fisik anak harus dipenuhi, kebutuhan untuk menghisap harus dipuaskan yaitu dapat dilakukan melalui pemberian ASI. Anak biasanya senang dalam gendongan atau dekapan dan belaian, karena hal tersebut membuat sang bayi memperoleh ketentramannya dalam kesatuannya dengan ibu. Menurut Erikson, dalam masa ini saatnya masa kepercayaan anak harus ditanamkan, karena tanpa kepercayaan tidak akan ada perkembangan yang berarti. Anak akan menjadi orang yang selalu curiga serta ragu-rau dalam menjalin hubungan baru. (Alex Sobur:2003). Tentunya perkembangan anak akan lebih maksimal apabila hal tersebut dilakukan langsung oleh ibu, bukan pengasuh. Berdasarkan sampel pengamatan yang dilakukan penulis di perumahan di wilayah gang VIII tempat penulis tinggal, dari 10 sampel yang 5 diantaranya ibu merupakan wanita yang bekerja, dapat disimpulkan walaupun ibu bekerja tetapi 3 diantaranya, anak-anaknya tetap tumbuh sehat. Tumbuh sehat disini dalam artian gemuk, jarang sakit dan tumbuh normal, tetapi umumnya anak-anak mereka tidak memiliki ikatan emosional yang kuat dengan ibu yaitu ditandai dengan anak susah diberitahu jika melakukan kesalahan. Sedangkan, 2 sampel dari ibu yang merupakan ibu rumah tangga, anaknya kurus, berat badan tidak naik-naik. Hal ini disebabkan karena produksi air susu ibu tidak mencukupi kebutuhan anak sedangkan ibu yang satunya hamil lagi sebelum masa pemberian ASI eksklusif bagi anaknya selesai.

2.3 PENGARUH BEKERJA TERHADAP PEMULIHAN KESEHATAN WANITA PASCA MELAHIRKAN

Pemulihan kesehatan pasca melahirkan atau biasa disebut masa nifas yaitu masa system reproduksi wanita mengalami proses perubahan untuk kembali seperti keadaan sebelum hamil. Masa ini terjadi hingga enam minggu (42 hari) setelah melahirkan. Bagi para ibu yang baru saja melahirkan tidak boleh melakukan kerja produksi dan hanya sedikit melakukan kerja reproduksi. Pekerjaan hanya difokuskan untuka merawat diri sendiri, merawat anak dan menyusui. Pada masa ini wanita diharapkan lebih banyak istirahat di tempat tidur, karena selain untuk memulihkan diri pasca melahirkan juga dapat memperlancar ASI. Memasak dan mengerjakan pekerjaan rumah juga sebaiknya dihindari, karena hal tersebut akan menguras konsentrasi dan mengurangi energy untuk menyusui bayi. Pada masa ini adakalanya diperlukan pengasuh pasca melahirkan (doula), yang bisa membantu mengasuh bayi atau kakak bayi serta membantu merawat ibu setelah melahirkan. Wanita harus banyak minum dan makan-makanan yang bergizi pada masa ini, karena dapat memperlancar produk ASI. Bagi seorang wanita yang bekerja, dalam masa ini disarankan untuk mengambil cuti. Cuti yang diberikan oleh perusahaan tempat bekerja umumnya yaitu tiga bulan, biasanya cuti ini mulai diambil beberapa hari sebelum melahirkan. Tetapi bagi wanita karir yang sangat sibuk karena memiliki jabatan yang penting dan sangat diperlukan oleh perusahaan ia akan mengambil cuti beberapa minggu saja, sejak sebelum hingga pasca melahirkan. Dalam hal ini kapitalisme sangat mempengaruhi kebebasan wanita. Menurut Richard Schmitt berkenaan dengan tanggapannya mengenai kapitalisme, selama seseorang melakukan suatu pekerjaan tertentu di dalam masyarakat mereka cenderung untuk memperoleh sifat-sifat, minat, kebiasaan, dan lain-lain, tanpa adaptasi untuk memenuhi tuntutan dari suatu pekerjaan tertentu mereka tidak akan mampu untuk bekerja dengan baik. Seorang kapitalis tidak akan menjadi yang tidak tahan memenangkan suatu kompeisi atau memintari yang lain seorang kapitalis untuk waktu yang lama. Seorang pekerja yang tidak bersedia untuk menerima perintah, tidak akan bekerja terlalu sering. Dengan demikian, kita dibentuk oleh lingkungan pekerjaan, dan kenyataan ini membatasi kebebasan personal karena kebebasan itu membatasi pilihan kita ingin menjadi apa. (Rosemarie:2004). Hal tersebut tidak boleh dilakukan oleh wanita pasca melahirkan karena enam minggu itu merupakan masa istirahat minimal pasca melahirkan. Jika istirahat yang diperlukan itu kurang maka akan bisa terjadi pendarahan. Selain itu jika ibu terlalu stres dengan pekerjaan akan mempengaruhi produksi ASI. Selain beberapa hal yang harus dilakukan wanita pada masa nifas, beberapa hal di bawah ini juga perlu diperhatikan. Pemberian ASI harus sesering mungkin, karena ASI berfungsi sebagai makanan pokok bagi bayi. Pemberian ASI eksklusif juga bisa sebagai alat kontrasepsi yang alami, karena berdasarkan penelitian T. Greiner dalam presentasi hasil risetnya di Georgetown University Institute for Reproductive Health, Washington, D.C., menyebutkan kemungkinan hamil saat menyusui eksklusif selama 6 bulan adalah kurang dari 1%, sehingga kehamilan berikutnya dapat direncanakan.

BAB III PENUTUP

3.1 SIMPULAN

Dari pembahasan diatas penulis dapat menyimpulkan beberapa hal sebagai berikut: 1. Kerja produksi dan reproduksi merupakan kebutuhan yang sangat penting sebagai proses untuk bertahan dan pembaharuan. 2. Pada zaman sekarang wanita bekerja bukan merupakan tuntutan ekonomi melainkan untuk memenuhi kebutuhan social-relasional. 3. Berperan di dalam dua bidang kerja, yaitu kerja produksi dan kerja reproduksi merupakan posisi yang sangat sulit bagi seorang ibu, terutama bagi ibu yang juga akan menjalankan perannya dalam kerja reproduksi. 4. Ibu yang bekerja cenderung tidak dapat memberikan ASI yang eksklusif untuk bayinya, padahal berdasarkan penelitian ASI eksklusif memiliki manfaat yang besar untuk anak. 5. Pemulihan kesehatan ibu pasca melahirkan memerlukan waktu minimal 6 minggu (42hari)

3.2 SARAN

1. Bagi para ibu yang baru melahirkan sebaiknya memberikan ASI eksklusif untuk bayinya, karena pemberian ASI eksklusif memiliki banyak manfaat, sedangkan bagi para ibu yang merupakan wanita bekerja (karir) dapat memerah ASI nya kemudian disimpan, tetapi cara ini membuat ikatan batin antara ibu dan anak kurang kuat.

2. Bagi pihak perusahaan pemerintah dan swasta sebaiknya memberi kebijakan baru bagi karyawan wanita serta menyediakan sarana penitipan anak, hal ini dilakukan untuk mendukung program pemberian ASI eksklusif serta menjaga kesehatan bagi ibu yang baru saja melahirkan.

tugas antropologi kesehata

diambil dari berbagai sumber

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s