Feeds:
Posts
Comments

“Seperti pelangi, setia menunggu hujan, reda”

Sisa-sisa pesona Efek Rumah Kaca semalam masih menimbulkan gairah pagi ini (22 Januari 2012). Efek Rumah Kaca memang selalu bisa menularkan energi positif melalui lirik-liriknya. Aku paling suka cuplikan lirik Desember diatas. Bagiku Desember bermakna sebuah penantian, bukan penantian yang menye-menye, tetapi penantian untuk melahirkan sesuatu yang baru. Untuk memulihkan luka apa saja.

Puitis, cerdas, dan cadas, itulah Efek Rumah Kaca. Belakangan ERK memang selalu hadir, dan selalu mampu mengalahkan galau, seriusan. Lirik-lirik yang sederhana namun bermakna dalam itu dapat segera mengubah perasaan anda. *halaahh.
Konon Astarini Ditha yang mengenalkan efek rumah kaca padaku, ia adalah penggemar fanatik grup band indie asal Bandung ini. Kala itu saya masih masih menjadi anggota magang Persma “Akademika.” Tahun 2008, lagu-lagu efek rumah kaca selalu mengiringi kami ketika bersama-sama di rumah merah itu. Tapi jujur saja saya bukan penggemar fanatik efek rumah kaca sebenarnya. Yang paling sering kudengar dan membekas saat itu yaitu Cinta Melulu. Bagiku yang mahasiswa baru saat itu, nama Efek Rumah Kaca masih terdengar asing. Maklum biasa dengerin lagu patah hati yang mendayu-dayu. Kalau tidak salah aku pernah bertanya pada kak Ditha mengapa nama band kok Efek Rumah Kaca, tapi dia menjawab “Udah dengerin aja, keren pokoknya lagu-lagunya, isinya tentang kritik-kritik sosial.” Continue Reading »

“Kita tidak akan kuasa menolak tiga hal dalam hidup ini, Lahir, Mati, dan Jodoh.” Yang lain boleh saja nego, tapi ketiga hal itu harga mati. Tuhan tidak akan menanyakan “wani piro” lagi tentang tiga hal ini.

Lahir ditengah keterbatasan itu nasib namanya, tapi namanya juga nasib orang Optimis bilang tentu saja bisa diubah, tergantung sejauh mana kita mau berusaha. Efek Rumah Kaca saja bilang “Hidup tak selamanya Linear.” Yaa, mereka, dan kami pasti bisa.

Kali ini ingin bercerita tentang mimpi, tapi tidak tahu akan memulai darimana. Bagiku mimpi itu hanya bisa dicapai oleh orang-orang yang memiliki akses. Bagi yang tak punya akses mimpi tinggalah mimpi. Seperti terkesan pesimis, tapi bukan itu realistis. Kita semua yang punya akses mudah saja meraihnya, sedikit usaha dan sentuhan kalimat-kalimat dari para motivator seperti Mario teguh atau siapalah, yaa kita bisa menyentuh langit, Bintang, Pelangi atau apa saja yang ada di benak anda. Atau jika anda sudah merasa sukses anda lah yang akan menjadi motivator. Ya itu keren memang, tapi saya lebih setuju jika ada yang bilang bahwa hidup tak semudah apa yang dibilang Mario Teguh.

Hidup akan terasa sulit bila berada ditengah keterbatasan, keterbatasan dana, kemudian merembet ke keterbatasan pendidikan dan kesehatan. Ya, mereka hidup di tengah keterbatasan itu. Anak-anak di pinggiran Kota, mereka tinggal di Desa Perangalas, Lukluk. Anak-anak ini adalah pedagang buah keliling yang rata-rata berasal dari daerah Muntigunung Karangasem. Lagi-lagi Muntigunung, daerah kering yang berbatasan dengan Kabupaten Bangli. Ditengah keterbatasan akses di daerahnya, mereka mencoba peruntungan ke Kota. Berdiam di Kabupaten paling kaya di Bali, Badung.

Akhir Desember lalu Kelas Beranda membuka kesempatan untuk menjadi volunter mengajar anak-anak ini, saya termasuk salah satu yang mendaftar. Lalu pada hari sabtu, 7 Januari 2012 saya bertemu Mbok Luh De (@lodegen) dengan kawan-kawan calon volunter lain untuk mendengar cerita lebih banyak tentang mereka. Kelas Beranda adalah kelompok belajar yang dibentuk beberapa relawan pengajar Mbok Luh De, Kak Intan, Kak Ditha, Mbok Anik, Bli Jaya Ratha. Kelima orang keren ini bolak-balik Denpasar-Kapal dan Lukluk seminggu dua kali sejak tahun 2010. Tetapi sejak sekitar enam bulan yang lalu para pengajar ini jarang kesana lagi karena masing-masing volunter memiliki kesibukan yang berbeda dan ada yang kuliah di luar Bali, sehingga saat ini mereka membutuhkan volunter lebih banyak lagi.

Sabtu pagi itu mbok Luh De memberikan gambaran pada kami volunter baru “Tidak ada kurikulum baku dalam mengajar ini,” kata mbok Luh De. Tetapi para pengajar berusaha menciptakan pembelajaran semenarik mungkin untuk mereka. Mereka biasanya diajari berhitung, menulis, dan bahasa inggris. Anak-anak itu paling suka diajari bahasa Inggris katanya, karena kalau bisa bahasa Inggris menurut mereka bisa jadi gigolo di Pantai Kuta. Ya, cita-cita tertinggi anak-anak itu ingin menjadi gigolo, dalam bayangan mereka menjadi gigolo itu keren. Tapi lebih tepatnya mereka memang tak ada pilihan.

Anak-anak itu rata-rata buta huruf, mereka dibagi menjadi tiga kelompok, anak-anak sebaya dengan anak TK dan SD yang buta huruf, anak-anak sebaya SD-SMP yang pernah putus sekolah, dan remaja buta huruf. Khusus para remaja biasanya diselingi pendidikan kespro (kesehatan reproduksi), karena pengetahuan mereka tentang kespro sangat rendah. Mereka sudah mulai mengenal seks bebas dan rata-rata umur 15 tahun sudah menikah.

Oh ya, hampir lupa mbok Luh De juga bilang, pedagang buah yang laris biasanya hanya anak-anak. Mungkin karena pembeli trenyuh. Tetapi ketika anak-anak dan remaja ini akan tumbuh dewasa tidak ada yang tahu akan seperti apa nasib mereka. Jadi melalui kelas beranda ini diharapkan membantu mereka memiliki masa depan lebih baik, paling tidak mereka bisa membaca, menulis dan berhitung.

***

Sore itu (13 Januari 2012)mendung menggantung di Cakrawala kota Denpasar, kami janjian via twitter di Taman Kota Denpasar. Aku terlambat hampir 10 menit, kak Intan sudah menunggu disana ketika aku datang. Kami hendak pergi ke tempat anak-anak itu, sebelum seminggu sebelumnya tertunda karena cuaca labil. Lalu tetes hujan pun turun, kami berteduh di warung dekat taman kota. Siang sebelumnya Mbak Arum calon volunter juga, konfirm via twitter mau ikut ke Perang, temanku Henny tidak bisa datang karena rapat redaksi di Akademika, tapi aku berhasil kabur :D . Hujan semakin lebat, tidak ada tanda-tanda ada yang mau datang, tapi kemudian Anggara (@anggaramahendra) menghubungi kak Intan via telepon, dia volunter juga tapi bukan pengajar. Anggara bertugas mengurus blog.

Anggara bilang ada yang mau datang lagi, Upik (@sitampanjaya). Cukup lama kami menunggu, Anggara dan kak Intan terlibat percakapan serius tentang mau diapain kelas beranda ini. Aku menjadi pendengar yang baik dan sesekali menimpali. Yang jelas penangkapanku dalam percakapan itu, kelas ini akan dibuat menjadi lebih hidup, mencari metode-metode mengajar yang menarik, belajar dari komunitas-komunitas serupa, banyak memberikan keterampilan, fotografi, teater, pengajaran via dongeng-dongeng, pokoknya semua hal yang akan meningkatkan performa mereka, termasuk publikasi, dan menggalang dana.

Serius, sebenarnya aku belum punya bayangan mau dibawa kemana anak-anak itu sebelumnya. Tentang mengajar pun aku tidak punya pengalaman. Motivasiku jadi volunter sih karena memang aku pernah berada di tengah-tengah orang dengan bebagai keterbatasan seperti itu di desa ku sana, jadi ya terasa sekali bagaimana rasanya. Mumpung ada kesempatan berbagi ya mengapa tidak. Hanya perlu belajar teknik mengajar yang menarik meskipun sulit (katanya). Tapi aku bilang ke kak Intan hendak mengajarkan mereka cara mengolah sampah yang baik, karena mbok Luh De bilang di dekat tempat tinggal mereka sampah menumpuk dan baunya mengganggu, ternyata terbukti.

Akhirnya, kak Upik datang, dan sekitar pukul 20.00 WITA kami berangkat ke Perang. Hujan masih mengiringi, kami menyusuri jalanan A. Yani yang gelap tanpa lampu jalanan. Hujan tinggal rintik-rintik ketika kami sampai di tempat kos anak-anak ini. Sepi, hanya beberapa bapak-bapak yang sedang bercakap-cakap. Lalu kak Intan menyapa seorang remaja umur 15 tahunan. Namanya Widya, tampaknya kak Intan sudah sangat akrab dengan gadis itu.

Jam segitu ternyata mereka sudah pergi tidur, maklum mereka berjualan sejak jam 5 pagi hingga jam 5 sore. Kami banyak bercakap-cakap tentang anak-anak yang masih ada disitu sekarang. Beberapa pindah ke kapal, kata Widya. Ada yang sudah menikah juga, jadi sudah tidak tinggal disitu. Ada yang pulang kampung. Kak Intan dan Anggara minta tolong Widya mendata anak-anak yang masih ada. Tidak sampai setengah jam kami disana, hanya bertemu dengan Wayan, siswa mbok Anik di kapal bersama adiknya, Widya, Agus yang sudah masuk sekolah formal, dan satu lagi lupa. Widya dan Agus yang bersemangat meladeni kami, sedangkan Wayan sesekali mencuri melihat televisi di kamarnya ketika kami mengajaknya berbincang.

Kami hendak pamit, hujan sudah mulai reda. Kami berjanji akan datang lagi hari sabtu minggu berikutnya. Aku berjanji meminta pertemanan dari facebook Widya, keesokan harinya ketika di konfirm, aku melihat mimpi dalam dindingnya yang ditulis selepas kami berpamitan. Ya kami akan menyalakan mimpi mereka di Kelas Beranda.

“Sampe hal-hal begitu juga diajarin ya?” kata Kak Fitria, ketika kujawab agenda ke Cangkeng pagi itu (selasa, 3 Januari 2012)

Kak Fitria adalah volunter di Dian Desa, Lsm yang mendampingi masyarakat Munti, khususnya dusun Tianyar. Dia baru dua minggu live in Munti. Aku baru berkenalan dengannya pagi itu, dan rupanya dia bergelar Princess Munti specialis designer tas yang masih mencari formula yang tepat untuk menghasilkan tas yang khas, unik, dan antik. wanita jangkung ini mengajari pemudi munti membuat kerajinan tas. Kak Fitria ini kekuasaanya berada di bawah Queen of Munti, Mbak Endang. *halah ini ga penting sebenarnya. Continue Reading »

Berpindah, Siapa Takut?

Banyak jalan menuju roma, gak punya pulsa modem, nge blog via opera mini pun jadi.

Berhubung lagi sering galau gak jelas, ceritanya mau ngobatin galau. Dan ternyata yang bisa mengobati ya memang harus diri sendiri. Berawal dari sepotong fatamorgana yang mengakibatkan kebodohan-kebodohan kecil. Beberapa waktu kemarin kayaknya keterlaluan banget. Berharap apa coba? Bukan menyesal juga sih, tapi kok ya ngerasa bodoh banget ya, bodoh dan polos itu emang kayaknya cuma beda tipis.

Kalau Candra Dewi bilang “Orang tidak akan pernah menjadi dewasa sebelum pernah patah hati.” jadi sebaiknya mencoba mengambil hikmah saja dari kepolosan eh kebodohan tersebut.

Berhubung orang yang kalem dan introvert, gak bisa nangis, gak bisa marah, dan gak bisa teriak-teriak nggak jelas. Dan tentu saja gak mungkin mencoba bunuh diri juga kali. jadi keputusannya mau baca buku. Tapi buku apa? Buku desain penelitian? Ga mungkin juga, walaupun memang lagi galau proposal. :(

Akhirnya inget kalo tanggal 24 lalu twitter heboh tentang Radityadika yang baru launching buku bertajuk Manusia Setengah Salmon. Pas tanggal 26 nya baru ngubek-ubek twitter dan nemu review nya di beberapa blog yang di link di twitter bang Raditya dika. Cukup menarik, berangkatlah ke gramedia dua hari berikutnya.

Seperti biasa isinya ga cuma menghibur dan bikin senyum-senyum sendiri sampe ketawa jungkir balik juga. Tapi banyak pesan mendalam dibalik cerita-cerita konyol tersebut. Beda dengan buku nya yang marmut merah jambu kemarin lebih banyak menghadirkan cinta, kalo manusia setengah salmon ini lebih banyak berisi tentang patah hati.

Ada beberapa bab yang menarik dan berjasa menjadi obat bagiku salah satunya ‘Sepotong hati di dalam kardus coklat.’ Bercerita mengenai Dika yang baru diputusin pacar, tapi saat yang bersamaan keluarganya harus pindah rumah. Ya, mungkin saya juga terlalu sempit buat dia, oleh karena itu wajar jika dia merasa harus pindah ke tempat yang lebih luas dan cocok untuk nya. Pesan moral dari sepiring makanan salah satunya bahwa setiap orang mempunyai kebiasaan sendiri, cara sendiri, dan tentunya sifat yang berbeda-beda. Oleh karena itu, wajar dong jika saya berbeda dengan mantannya. Tentang tarian musim kawin, bercerita tentang pedekate masa kini dan masa dulu. Masa PDKT itu diibaratkan sebagai tarian musim kawin, dan tarian saya mungkin saja kurang menarik karena skill tiap orang beda. Tapi bagaimanapun caranya sebenarnya yang paling penting ya fungsi pedekatenya. Yaitu agar bisa membedakan antara orang-orang yang kita mau dan orang yang kita butuhkan. Noted.

Tentang ‘the pains of growing up,’ tumbuh dewasa memang harus melalui rasa-rasa sakit seperti itu. ‘pindah’ menjadi dewasa dan siap menghadapi rasa sakit dan melihat hal-hal yang menyakitkan. Kemudian tentang pindah ‘rumah’ dan mencari rumah yang sempurna. lagi-lagi saya menemukan hati diibaratkan sebagai rumah seseorang. Saat awal kepindahan mungkin saja kita membanding-badingkan rumah baru dengan rumah lama kita. Begitu juga kami kemarin.

Bagi beberapa orang rumah adalah ruangan berukuran 4×4, bagi yang lain rumah besar dan minimalis mungkin di daerah perumahan mewah. Tapi balik lagi rumah yang ‘sempurna adalah bisa melindungi kita dari gelap, hujan, dan menawarkan kenyamanan.’

Dan pada akhirnya kita semua harus belajar dari ikan salmon. Untuk mendapatkan sesuatu yang lebih baik kata radityadika ga perlu jadi manusia super. Hanya perlu jadi manusia setengah salmon. ”tidak takut pindah dan berani berjuang untuk mewujudkan harapan. Bahkan rela mati di tengah jalan demi mendapatkan apa yang diinginkan (baca: butuhkan).” perpindahan adalah hal yang sangat mungkin, dan ini hanya soal u. Hanya perlu mencari kebahagiaan-kebahagiaan kecil diantara semua perpindahan ini.

Gak cuma pesan-pesan itu saja isi buku ini, banyak yang lucu dan konyol seperti di ledakan paling merdu, bakar saja keteknya, kasih ibu sepanjang belanda, dan terlentang melihat bintang.
Jadi menjadi single struktural, cyclical, ataupun friksional sekalipun adalah pilihan.

Salam sejuta kasih.

Serpihan Kata

Kamu Adalah Jawaban bagi semua pertanyaan

Alasan di semua hal terbaik dalam hidup

Harapan bagi mimpi-mimpiku

Kekuatan saat aku sendiri meragukan kemampuanku

Random pic

Jadi salahkah jika aku tak ingin siapapun memilikimu?

Atau, haruskah aku mencintaimu untuk membuktikan keegoisanku

-Clara Canceriana-

Random banget, tba-tiba tadi siang menemukan catatan ini waktu jalan-jalan ke Gramedia, haha.

Spirit itu Darimana Saja

Kongres Wanita Indonesia III pada 22 Desember 1938 itu melahirkan hari ibu,

“Para pejuang perempuan tersebut berkumpul untuk menyatukan pikiran dan semangat untuk berjuang menuju kemerdekaan dan perbaikan nasib kaum perempuan. Para feminis ini menggarap berbagai isu tentang persatuan perempuan Nusantara, pelibatan perempuan dalam perjuangan melawan kemerdekaan, pelibatan perempuan dalam berbagai aspek pembangunan bangsa, perdagangan anak-anak dan kaum perempuan. Tak hanya itu, masalah perbaikan gizi dan kesehatan bagi ibu dan balita, pernikahan usia dini bagi perempuan, dan masih banyak lagi, juga dibahas dalam kongres itu. Bedanya dengan jaman sekarang, para pejuang perempuan itu melakukan pemikiran kritis untuk perkembangan perempuan, tanpa mengusung kesetaraan jender. “

Mom and me

Maka saya punya alasan menulis status ini “halo, hari ibu, bagaimana ttg kesehatan ibu di negeri kita, di provinsi ujung timur sana? Pendidikan kespro untuk remaja,putri khususnya? Selamat hari ibu.” Tapi kawan saya komentar saat yang lain statusnya unyu-unyu kamu menuliskan status begitu? Dan ketika saya jawab pencitraan, eeh dia kira beneran tujuanku itu. Hahaha, Yaelahh pencitraan untuk siapa juga coba. ckckckck. Saya yakin ibuku atau ibu-ibu lain dan para calon ibu masih memiliki permasalahan seputar hal tersebut.

Saya tidak memiliki banyak cerita tentang kebersamaan dengan ibu ketika kecil. Sejak kecil saya lebih sering bersama embah.Tapi ketika saya tumbuh dewasa ibu menjelma sebagai seorang kawan. Kawan yang paling bisa diajak gila-gilaan. Berbelanja bareng, wisata kuliner bareng, cobain resep masakan di dapur, bergosip bareng, ngomongin jodoh, pacar, dan akhir-akhir juga sering ngomongin masa depan kami bareng-bareng. Ibu sering kalap belanja, dan ia menjadi terlihat cantik ketika menawari saya membeli baju. Ibu terlihat seksi ketika marah dan mengomel. Dan ibu benar-benar bersikap hangat ketika memeluk saya.

Ibu melahirkan saya pada usia yang masih sangat muda. Dan saya tidak bisa membayangkan ketika seumuran dengan saya ibu sudah memiliki dua anak. Susah dibayangkan, kalau orang tua di jawa bilang “Anak nggendong bocah.” Ibu hanya melahirkanku hanya dengan bantuan dukun. Masa muda ibu itu hanya sebagian kecil potret kehidupan desa, menikah muda lalu memiliki (banyak) anak, tetapi untungnya ibu sudah kenal KB pada masa itu. Saya yakin ibu mewakili kebanyakan remaja di desa yang tidak pernah mendapatkan pendidikan kesehatan reproduksi. Apalagi di daerah timur seperti Nusa Tenggara dan Provinsi ter-timur Papua tentu lebih parah lagi dari sisi kesehatan ibu dan kesehatan reproduksi remaja.

Pagi ini seperti biasa ibu masuk ke kamar saya dan mencium kening saya. Segera saya taruh ponsel yang sejak membuka mata, saya lebih memilih membuka jejaring sosial twitter daripada menemui ibu terlebih dahulu. “Selamat hari ibu, terima kasih buat semuanya mam.” bisik saya sambil memeluk ibu. Ibu bukan orang yang mengerti twitter dan facebook, tapi ibu mengenal email dan yahoo messenger tapi itu karena kebetulan ibu bekerja di agen perjalanan wisata. Ibu adalah wanita yang mandiri secara finansial, dan dua tahun terakhir juga dituntut menjadi ayah bagi kami. Pokoknya ibu adalah pahlawan saya. Ibu juga tidak pernah marah ketika saya seharian hanya main di kampus dan kesana-kemari, dan kadang pulang agak larut.

Ibu selalu terlihat bahagia ketika pulang kerja ada aku atau adik yang menyambut. Ibu akan berubah sumringah ketika kami membukakan pintu. Ibu selalu merasa muda lagi ketika berbelanja atau pergi bersama saya, apalagi dengan gaya berpakaian ala anak muda yang tentu saja lebih berani memakai gaya aneh-aneh daripada saya. Dan ini kadang menyebalkan. Tapi sayangnya aku dan adik lebih suka sibuk sendiri, apalagi dua tahun terakhir kami jarang bisa bersama-sama. Dan ibu hanya sering ditemani media yang disebut TV. Beberapa minggu yang lalu ibu memutuskan menggunakan saluran TV berlangganan, dan kini serial drama Jepang dan China menjadi kawan barunya.

Malam ini saya sengaja tidak pergi, hanya untuk menyambut ibu saya pulang. Dan ibu membelikan buah-buahan kesukaan kami, Manggis dan Mangga. Ibu mengupas beberapa mangga lalu kami makan bersama-sama. Beberapa waktu kemudian kami seperti berjarak lagi. Meskipun begitu ibu adalah spirit dalam hidup saya.
Selamat Hari Ibu.
Terima kasih ibu, Sayang ibu selalu :*

‎”Sebagian dirimu pergi bersamanya, sebagian dirinya tinggal dalam dirimu.”

Entahlah itu kutipan pertama kali siapa yang mengucapkannya, yang jelas itu saya dapatkan dari seorang kawan di comment jejaring sosial semalam. Hari ini ayah saya seharusnya merayakan ulang tahunnya yang ke-41. Beliau telah berpulang sebelum usianya genap 40 tahun, ya 2 tahun yang lalu. Beberapa tahun terakhir kami biasa merayakan ulang tahun bersamaan pada bulan Desember. Kebetulan ulang tahun saya November, adik saya 4 Desember, dan ayah saya 19 Desember. Dan saya sangat merindukannya pagi ini. Continue Reading »

Hei pelangi, terima kasih telah mewarnai Desember. :) Walau sekejap tapi akan ada lagi, pelangi di pagi-pagi dan hujan yang akan datang. setelah purnama-purnama berikutnya.

Ternyata bukan Dialog Dini Hari saja yang mewarnai bulan Desember ini dengan pelangi, tapi kamu juga . Oyah, Dialog Dini Hari itu Trio Folks asal Bali, mengawali Desember ini mereka meluncurkan single terbaru untuk album ketiganya. “Hei pelangi, warna-warni..hei pelangi gairah suka di hati…” itu salah satu cuplikan liriknya. keren lhoo.

The December Rainbow

Cerita (kurang lebih) dua puluh purnama, setiap episode demi episode sudah berlalu. Sebenarnya bukan hanya tentang cerita indah. tapi cerita apapun akan selalu berkesan. Rindu kedua yang tiada berbatas itu sudah terjawab. Rindunya orang-orang yang sama sekali belum mengukir cerita, katanya. Bukan rindu biasa, sekadar rindu mendengar celotehmu tentang negara. Mungkin orang sudah bosan mendengarnya, tapi aku tak bosan-bosan. Tentang keyakinan, harapan-harapan dan nilai. Dan rindu melihat semangatmu. Selalu ada energi positif setiap kali berbincang, yaa. :)

Sanur di pagi hari, hendak melihat matahari terbit. Sayang, pukul 06.00 WITA matahari sudah terlampau tinggi. Rupanya langit sudah terang benderang. Para penikmat pagi sudah beranjak dari pantai. Dan sepeda yang berjejer di pinggir trotoar ternyata lebih menggoda. yeayy, cukup menyewa sepuluh ribu rupiah per sepeda. Kami menyusuri trotoar pinggiran pantai, melewati beberapa artshop dan cafe-cafe kecil disana. Berhenti di pantai Sindu, lalu menuju pinggiran pantai yang di paving. Matahari yang mulai meninggi, kilau cahaya yang memantul, air laut yang menyurut, beberapa aktivitas pemilik boat dan para penikmat pagi mewarnai hari itu.

Pagi yang tak Surut

Waktu sudah beranjak, saatnya melanjutkan aktivitas di hari sibuk itu. Hanya percakapan yang biasa. Percakapan tentang pertemuan dirumah merah dua puluh purnama lalu. Tentang kesibukan kita masing-masing. Hanya sepotong-sepotong cerita. Tetapi kali ini tidak menyesakkan. Perjumpaan selalu terbatas waktu. lalu, kita berpisah di ujung Traffic light. Ini pelangi Desember, pelangi memang hanya selalu hadir sesaat. Tapi akan selalu hadir diantara hujan dan biasan sinar matahari. Dan akan selalu ada rindu-rindu yang baru.

Rajawali Pagi Ini

Soal foto rajawali ini, ahh kamu sebenarnya hanya mengada-ada. Tapi kamu memang Rajawali dengan karakteristiknya. Soal Denpasar-Jakarta hanya soal jarak dan waktu, dekat di hati bukan? I Wish :)

Desember 2011

“Kita tak lagi mendambakan sesuatu karena kita membutuhknnya, melainkan karena keinginan-keinginan yang terus-menerus didefinisi oleh imaji-imaji yang dikomersialkan, yang pada akhirnya membuat kita berjarak dengan diri kita sendiri.”

Tentang Arsitektur yang lain. Sebuah buku berisi essay tentang sebuah kritik arsitektur. Buku setebal 243 halaman ini merupakan karya Avianti Armand, seorang dosen arsitek di UI sekaligus penulis. Dilihat dari cover, buku ini kurang menarik. Hijau hampir abu-abu, bergambar balok-balok.

Buku ini kupinjam dari seorang kawan, belakangan saya emang agak sok rajin baca buku non-fiksi. Ternyata setelah dibaca buku ini menggoda sejak bab pertama. Bertutur mengenai rumah, mengenai asal-muasal arsitektur. Mengenai Homo Faber dan homo Ludens. Homo Faber adalah manusia yang mengolah tanah dan menjinakkan alam secara fisik menciptakan sebuah bangunan dunia artifisial baru. Homo Ludens adalah manusia petualang manusia petualang, penggembala ternak yang mengembara. Dari tipe hidup yang menetap dan nomaden ini dipercayai lahir arsitektur. Tapi penulis berpendapat bahwa sesungguhnya kita tidak benar-benar tinggal dirumah. “Kita telah lama menjadi penghuni waktu, sementara rumah telah menjelma menjadi sekadar ruang transit.”

Ini Cover Bukunyaaa

“Apa makna rumah bagimu?” : Kamu. Dalam buku ini dituliskan demikian. Saya jadi ingat percakapan dengan Kak Intan, seorang senior di rumah merah. Waktu itu purnama kapat, bulan Oktober 2011 dalam tahun masehi. Dia bilang jika ingin menyamakan visi dengan seseorang coba saja tanyakan rumah impiannya. Beberapa orang yang saya tanyakan rumah impiannya memang lebih banyak memiliki pemikiran-pemikiran yang sama dengan saya. Ternyata rumah sesungguhnya memang bermakna lebih dalam, menggambarkan sesuatu yang intim, memberikan kenyamanan, memberikan makna dan juga cinta.
Tentang Kitsch, suatu bentuk yang “Norak” atau “Murahan.” Ini merupakan sebutan untuk mengidentifikasikan imitasi yang buruk dari sebuah karya artistik dalam seni murni dan seni terapan, misalnya arsitektur, literatur, fashion, fotografi, tetaer, sinema atau musik. Kitsch terbentuk karena adanya penegasan posisi kelas pemiliknya. Kitsch lahir dari uang dan keinginan-keinginan untuk merambah lebih luas dan lebih cepat dengan mengesampingkan selera dan pengetahuan. Fungsi dari karya yang termasuk dalam Kitsch ini hanyalah sekadar untuk menghibur dan meyakinkan penikmat dan pemakainya.

Dalam buku ini juga mengemukakan tentang air yang biasanya menjadi pelengkap dalam arsitektur. Tentang jendela yang menjadi pembatas antara dunia dalam dan luar rumah. Dapur, yang maknanya bergeser menjadi dapur kotor, hanya sebagai tempat sarapan dan tempat beraktivitas pembantu serta bergosip. Ruang untuk anak yang sebenarnya tiada bermakna sebagai imitasi dari alam, tempat terbaik untuk belajar. Sembarang kota karena tiada keberaturan arsitektur. Tentang pagar yang telah menjadi pembatas kelas sosial. Dan banyak lagi fakta dan kritik tentang arsitektur.
Lalu apa yang disebut arsitektur yang lain dalam buku ini? “Bukan arsitektur yang mengkilap seperti arsitektur rumah berlantai marmer atau kayu yang dipoles halus, dengan jendela kaca lebar-lebar dan sebuah kolam renang, dengan dua buah dapur yang masing-masing luasnya setara dengan RSS (rumah sangat sederhana), dengan garasi minimal dua mobil dan interior, juga life style yang sangat banyak beredar belakangan ini. Bukan juga arsitektur yang mencantol pada nama-nama besar starchitects, internasional dan lokal, yang kepopulerannya menyaingi bintang-bintang film dan sinetron.” Jika ingin melihat perwujudan arsitektur yang lain ini dapat melihat ruang huni masyarakat pinggiran kali code, Yogyakarta kini. Romo mangun membantu memperbaiki ruang tinggal menjadi layak huni dan membebaskan dari upaya penggusuran. Intinya “Arsitektur yang lain berbicara tentang keinginan dan aspirasi masyarakat, bukan semata-mata pengolahan estetika tampilan semata.”

Buku ini sangat menarik, tidak hanya menampilkan filosofi dari sebuah karya arsitektur. Tidak hanya berbicara tentang keindahan, kenyamanan. Tetapi ternyata suatu karya arsitektur bermakna sosial strata dan dapat berbicara aspirasi. Dalam buku ini saya juga seolah pembaca diajak untuk berhenti menjadi masyarakat konsumerisme. Berhenti menjadi penikmat yang sesungguhnya hal tersebut tidak kita butuhkan. Mengajak kita peduli bahwa banyak ruang yang sesungguhnya kita hanya merasakan imitasi didalamnya. Kita membutukan ruang yang sesungguhnya. Dan yang paling penting buku ini menggunakan bahasa yang mudah dipahami oleh orang yang buta arsitektur sekalipun.

Malam ini Menyembuhkan

“Kau Tak Bisa Bergantung pada matamu ketika imajinasimu tidak bekerja”
–Mark Twain-

Contoh Fiksi Mini

Seingetku udah tiga kali bahkan lebih kak Dedy menyebut kutipan itu, Dan entah kenapa ia tak bosan-bosan. Btw, lagi-lagi kak Dedy mewarnai postingan ini, boleh yaaa, saya belajar banyak tentang menulis dari dia, sebut saja guru.
Kembali ke topik tentang malam ini, sedikit catatan dari acara semalam, Creative Writhink. Pembicaranya Fahd Djibran, kalo pengen kenal lebih dekat langsung saja . Seorang creative writer. Tapi aku sebenernya tidak terlalu tertarik mengenai penulisan galau, eh fiksi maksudku. Fiksi biasanya disandingkan dengan gaya-gaya puitis, aku selalu gagal sebelum paragraf pertama. Kalau kata kak Ditha mungkin kurang jatuh cinta atau patah hati. Masuk akal juga. :D Continue Reading »

Older Posts »

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.